Sebuah Usaha Untuk Melestarikan Al-Quran dan Semoga Bisa Menyebarkan Virus-Virus Kebaikan, Insyaa Allaah. Alamat: Jl. Kedondong Rt 02/06 No. 31 Sudimara Jaya Ciledug Kota Tangerang hp. 0815 145 995 76
Friday, June 8, 2012
Tadi malam, kamis malam, waktunya melanjutkan kegiatan membaca dan bercerita. Kalau pada beberapa minggu lalu, kegiatan dilakukan pada tingkatan goup kecil, small groups, malam tadi, dicoba dalam group besar, whole groups. Meski dalam prakteknya mereka masih membaca belum bercerita, namun untuk melatih mental di awal adalah sebuah keharusan. Karena belajar adalah sebuah proses, berikut kilasan video tampilan mereka pada kegiatan membaca dan bercerita, insya Allah dua pekan mendatang mereka akan diminta tidak hanya membaca, namun mampu bercerita, semoga.
Friday, June 1, 2012
Kegiatan Malam
Jum’atan; Membaca dan Bercerita
Manfatat Kegiatan
Setelah dua kali pertemuan
kegiatan membaca dan bercerita yang dilakukan setiap satu minggu sekali setiap
kamis malam jumat saya mencoba mengambil masukan dari para “santri senior” apa
yang mereka rasakan setelah dua kali mengilkuti kegiatan membaca dan bercerita.
Berikut adalah petikan komentar dari pengalaman santri setelah mengikuti
kegiatan membaca dan bercerita.
Untuk mengetahui efektivitas dan
manfaat kegiatan tersebut saya telah mewancarai mereka dengan
pertanyaan-pertanyaan sebagi berikut:
1. Apakah
kamu pernah mengikuti dan mempelajari kegiatan seperti ini seperti ini di
sekolah?
2. Setelah
mengikuti kegiatan ini apa yang kamu rasakan?
3. Apa
manfaat kegiatan ini bagi kamu?
4. Bandingkan
keadaanmu sebelummengikut kegiatan ini dan setelah mengikuti kegiatan ini
Berikut adalah jawaban polos mereka-mereka yang mendapat tugas membaca dan bercerita kepada teman-temannya
Alda elvionicha
Pratiwi
1. Belum
2. Dapat
menambah ilmu pengetahuan, dapat lebih mudah mencerna informasi, menambah
wawasan.
3. Ya,
sama seperti nomor satu
4. sebelum:
susah mencari informasi kurangnya masukan-masukan pembelajaran
5. sesdudah:
dapat mencari informasi secara mudah, lebih banyak menerima masukan
pembelajaran, bertambahnya ilmu dalam
membaca.
Susi
Hanadayani
1. Belum
2. Mendapatkan
manfaat untuk bisa belajar membaca dan bercerita atau menjadi faham cara
menulis.
3. Ya,
kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk kedepannya agar tahu dulu saya
menceritakan tentang cerita apa saja kepada orang lain
4. Dulu
saya tidak lancar membaca dibangku kelas dua, akhirnya saya berlatih membaca
cerita, sampai sekarang alhamdulillah membacanya sudah lumayan lancar.
Miftahul
Jannah
1.
Belum
2.
Kegiatan ini bermanfaat selain bermanffat kita
juga dapat ilmu dan dapat menceritakan lagi kepada yang lain.
3.
Iya, manfaatnya kita dapat mengingat ceritanya dan
kita bisa menceritakan kembali
4.
Sebelumada kegiatan membaca dan bercerita saya
masih kurang bisa menulis. Setelah ada kegiatan ni saya lebih bisa menulis dan
saya bisa bercerita kepada yang lain.
Tika
1.
Belum
2.
Aku mulai PD untuk bercerita dihadapan orang
banyak
3.
Iya, manfaatnya sekarang aku tahu cara
penulisannya, cara jeda bercerita dan banyak lagi
4.
Kemarin kemarin kemampuan ku dalam bercderita
sangatlah jelek, tidak tahu cara bercerita dengan benar dibandingkan dengan
sekarang, alhamdulillah sedikit bisa dalam bercerita
Prawiningsih (Wiwin)
1.
belum
2.
Lebih PD dalam bercerita kepada orang lain,
karena aku bisa menceritakan cerita yang aku baca dan mengembangkannya kepada
orang lain, juga tahu cara penulisan buku
3.
Ya, bisa lebih PD
4.
Sebelum: aku belum berani menceritakan dan
mengembangkan cerita
Sesudah:
Lebih PD karena tahu
Triyaningsih
1.
Belum
2.
Lebih PD
3.
Ya, melatih mental
4.
Sebelum: Pengalaman sedikit, dalam bercerita
masih belum baik atau masih malu malu
Sesudah: Lebih terlatih, jadi lebih PD
Edi Saputra
1.
Belum
2.
Menambah ilmu membaca
3.
Ya bermanfaat sekali
4.
Sebelum: belum tahu cara mengembangkan cerita
yang aku baca
Sesudah: Aku bisa sedikit mengembangkan
cerita dalam buku
Tuesday, May 29, 2012
Canda Ceria dan Gembira
Canda Ceria dan
Gembira
Oleh: Alda Elvionicha
P. (TIWI)
Siswa kelas 2 SMPn 10
Kota Tangerang
Tema: persahabatan
Jenis: Fiksi
Kriing…bel berbunyi dua kali. Itu
tandanya istirahat, tak kusangka temanku sudah menunggu didepan pintu. Sambil
memangil namaku akupun langsung lari dan menghampirinya.
Lalu aku (kami) berjalan menuju
kantin sekolah. Aku membeli roti, sedang temanku vina membeli jus. Setelah itu
kami menuju taman yang sangat bersih dan indah (di halaman sekolah).
Kami disana tertwa, mengobrol,
bercanda dan bergembira. Tiba-tiba…dorr! (ada suara mengejutkan kami) ternyata
ada salah satu teman sekelasku (kami) yang ingin ikut bergabung. Namanya Lia.
Dia mengagetkan kami berdua. Untung saja aku dan vina tidak punya penyakit
jantung (karena kaget sekali)
Setelah (asik) mengobrol kami
bertiga bermain dengan rasa senang. Mjungkin bukan hanya aku, vina dan lia saja
yang seperti ini, tetapi kita bagaikan sahabat yang ngga pernah pisah (tidak
bisa dipisahkan) walau badai menghantam.
Kriiing…bel berbunyi lagi, itu
pertanda jam istirahat sudah selesai. Akupun bilang sama mereka sampai jumpa
nanti pulang sekolah ya?
“iya jangan lupa nanti kita
pulang bareng ya?” jawab vina sambil membuang gelas plastik bekas ia minum jus
(ke tempat sampah).
“iya aku tunggu di gerbang ya?”
jawab juga Lia sambil menunjuk kegerbang.
Sehabis (setelah) itu, aku, vina,
dan lia segera masuk kelas masing-masing, untuk belajar kembali sapai nanti
saatnya pulang sekolah.
Dan akhirnya aku dan
teman-temanku terbiasa seperti itu, istirahat bersama, pulang bersama dan
lainnya.
Kamipun seperti sahabat yang
selalu bercanda, ceria dan gembira, dan tertawa tetapi kami tidak lupa kalau
teman ada yang sakit kami selalu ada saat suka maupun duka.
Kegiatan Malam Kamis-an Pengajian Anak-Anak Nurul Islam Ciledug
Membaca dan Bercerita
Setiap santri "senior" diminta untuk memilih dan membaca satu buah buku cerita yang telah disediakan oleh beberapa orang donatur yang menyumbangkan buku dan uang zakat, shodaqoh untuk dibelikan buku bacaan/cerita yang bernlai moral dan akademis.
Setelah mereka membaca dan memahami isi cerita buku tersebut mereka diminta menceritakan buku tersebut kepada para santri "junior", yaitu mereka yang masih berusia 6-9 tahun. Sebelumnya para santri "senior" diberikan contoh/modeling bagaimana cara membawakan cerita buku tersebut. Setelah dianggap cukup mereka diberikan waktu sekitar 10 menit untuk menceritakan buku yang telah dibacanya kepada para santri "junior".
Nampak sekali keceriaan mereka membawakan cerita dan yang mendengarkan cerita. Tujuan dari pembelajaran seperti ini adalah memberikan kemampuan lancar membaca, memahami dan memberikan keahlian berkomunikasi, yaitu meyampaikan apa yang telah ia tahu dari buku yang ia telah baca dan mengembangkannya dengan apa-apa yang telah alami selama menjalani kehidupan.
Kegiatan yang baru pertama dilaksanakan ini insya Allah akan terus berlanjut, setelah menyaksikan semangat kakak yang bercerita kepada adiknya, ayo semangat, semoga kelak ada perubahan yang baik bagi kehidupanmu untuk menghadapi masa depan, amin.
Tuesday, May 15, 2012
Sinergi Alumni YISC; Mengumpulkan Puzzle Yang Berserakan
Sinergi Alumni YISC;
Mengumpulkan Puzzle Yang Berserakan
Alhamdulillah saya dapat mengenal
beberapa individu yang pernah menempa diri di YISC Al-Azhar puluhan tahun yang
lalu. Ini sebuah kebahagiaan karena diantara mereka saya bisa mendapatkan pengalaman dari sharing
pengalaman dan pengetahuan kehidupan dengan mereka yang lebih luas lagi. Mengapa
hal ini bisa saya alami?
Alhamdulillah sejak saya
bergabung dengan YISC sekitar tahun1998, hingga menjadi pengurus sampai tahun
2002, pengurus YISC saat itu, termasuk saya di dalamnya tidak pernah memutuskan
tali silaturrahim dengan mereka. Sebagai pengurus kami sangat menghargai
mereka, dan kami tetap meminta mereka mengajar bapakah itu di BSQ, SII atau
sharing dalam kajian yang lain di Forum dialog atau KABUKI, Kajian Buku Islam,
tak terfokus pada buku tertentu dan pemahaman golongan tertentu sebgaimana
periode 2003 sampai sekarang.
Pemikiran dan pemahaman keagamaan
yang berkembang saat itu kami jadikan bahan dialog untuk mengetahui dasar-dasar
filosofis mengapa pemikiran/pemahaman tersebut muncul, tak cuma membahas yang pemikiran
sekuler, liberal, pluralis yang fundamentalis Islampun menjadi bahan kajian. Maka
sepengetahuan pengalaman saya di YISC sampai era 2002 mereka masih memiliki
pemikiran dan pemahaman tentang Islam yang open-minded (berpandangan terbuka)
tidak mencaci maki, mendiskreditkan dan mengeluarkan dari
keanggotaan/kepengurusan YISC. Entah setelah 2003 sampai sekarang, menurut
kabar burung dan informasi yang saya dapat langsung dari anggota yang pernah
berbeda pandangan dengan pengurus, “dimusuhi” dan disingkirkan, kejam kali ya.
Kini, para alumni yang sudah “dibersihkan”
dan membersihkan diri dengan tetap terus berkomunikasi akhirnya melahirkan komunitas
pengajian Raudhah, setelah bertahun-tahun menuntut ilmu dari berbagai kalangan
dan golongan, hingga akhirnya kini sudah tersadarkan, pengajian raudhah tampil
dengan kajian yang sedikit berbeda. Para alumni dan civitas raudhah yang
bertebaran diajukan untuk menjadi pemateri, sesuai dengan pengalaman
spiritualnya masing-masing, dan sifat kajiannyapun semakin berkembang dan kaya
rasa.
Tak puas dengan hanya mengkaji
akhirnya pencerahanpun muncul, lahirlah Raudhah Institute, yang kini masih
berbentuk embrio. Secara spontan lahirlah sebuah kegiatan dakwah yang langsung
bertemu dan melakukan pengabdian pada masyarakat. Dua kegiatan spektakulerpun
dilakukan, pertama Pelatihan Guru PAUD di Depok dan kedua Baksos yang dikemas
dalam bentuk penyuluhan kesehatan masyarakat dan Gigi balita di lingkungan RW
06 Kelurahan Sudimara Jaya Ciledug, Kota Tangerang, dan kini sedang dirancang
kegiatan ketiga insya Allah akan berlangsung di akhir mei.
Sinergi luar biasa dahsyat telah
terjadi, kebangkitan potensi Alumni yang berserakan mulai disusun membentuk puzzle
yang cantik dalam bingkai dakwah sosial. Dengan moto “Untuk Pencerahan dan
Pemberdayaan”, sinergi terus dibangun dan ditingkatkan demi pengabian pada
masyarakat, “untuk melayani Tuhan”, kata bahasa agama teman saya. Selamat dan
Sukses, Semoga Allah SWT selalu ridho dan menyelamatkan setiap aktivitas/program
yang dijalankan Raudhah Institute.
Thursday, May 10, 2012
Salah Mencabut Gigi
Salah Mencabut Gigi
Oleh; Triya Ningsih
Astuti
“Ma, gigiku sakit banget nih”,
Saya (aku) berkata sambil memegang pipi kananku. Mamaku menjawab, “ya udah
besok ke Dokter gigi aja dari pada gigi kamu bengkak”, aku menjawab dengan
dengan wajah yang suntuk. “Gigi aku itu mau copot tapi gak copot-copot, bukan
bengkak”, ya udah besok ke dokter aja biar diperiksa kalo (kalau) misalnya gigi
kamu mau copot ya udah di cabut aja, kat mama. Aku menjawab, ya udah deh.
Ketika aku berdiri di depan rumah
sakit aku merasa ketakutan dan berminat untuk tidak mencabut gigiku ini. Tapi itu
sudah terlambat ya sudahlah. Saya (aku) duduk dibangku paling ujung dengan mama
aku untuk bergiliran masuk, hati saya (aku) semakin tidak tenang dan bingung,
apa yang aku harus perbuat.
Nama aku dipanggil dan aku
langsung masuk, saat sudah berdiri didepan dokte tiba-tiba tangan aku bergetar
karena ketakutan, saya (aku) bekata, “ma entar saja ya, sambil memegang tangan
mama saya (aku)pun langsung berlalri untuk keluar ruangan.
Aku dibukuk untuk masuk kembali
tetapi aku tidak mau, karena aku sudah ketakutan suluan, akhirnya (saya) aku menungu tiga orang untuk masuk
duluan ketika sudah tiga orang saya (aku)pun masuk dan pasrah gigiku untuk
dicabut.
Selesai di cabut hatiku langsung
tenang, ketika aku berkaca di rumah ternyata dokter itu mencabut gigi yang baru
tumbuhakupun menceritakan kepada mama aku.
Subscribe to:
Posts (Atom)













