Friday, June 8, 2012

Tadi malam, kamis malam, waktunya melanjutkan kegiatan membaca dan bercerita. Kalau pada beberapa minggu lalu, kegiatan dilakukan pada tingkatan goup kecil, small groups, malam tadi, dicoba dalam group besar, whole groups. Meski dalam prakteknya mereka masih membaca belum bercerita, namun untuk melatih mental di awal adalah sebuah keharusan. Karena belajar adalah sebuah proses, berikut kilasan video tampilan mereka pada kegiatan membaca dan bercerita, insya Allah dua pekan mendatang mereka akan diminta tidak hanya membaca, namun mampu bercerita, semoga.







Friday, June 1, 2012


Kegiatan Malam Jum’atan; Membaca dan Bercerita
Manfatat Kegiatan  


Setelah dua kali pertemuan kegiatan membaca dan bercerita yang dilakukan setiap satu minggu sekali setiap kamis malam jumat saya mencoba mengambil masukan dari para “santri senior” apa yang mereka rasakan setelah dua kali mengilkuti kegiatan membaca dan bercerita. Berikut adalah petikan komentar dari pengalaman santri setelah mengikuti kegiatan membaca dan bercerita.

Untuk mengetahui efektivitas dan manfaat kegiatan tersebut saya telah mewancarai mereka dengan pertanyaan-pertanyaan sebagi berikut:

1.       Apakah kamu pernah mengikuti dan mempelajari kegiatan seperti ini seperti ini di sekolah?
2.       Setelah mengikuti kegiatan ini apa yang kamu rasakan?
3.       Apa manfaat kegiatan ini bagi kamu?
4.       Bandingkan keadaanmu sebelummengikut kegiatan ini dan setelah mengikuti kegiatan ini
Berikut adalah jawaban polos mereka-mereka yang mendapat tugas membaca dan bercerita kepada teman-temannya
Alda elvionicha Pratiwi
Kelas 8, SMP N 10 Tangerang
1.       Belum
2.       Dapat menambah ilmu pengetahuan, dapat lebih mudah mencerna informasi, menambah wawasan.
3.       Ya, sama seperti nomor satu
4.       sebelum: susah mencari informasi kurangnya masukan-masukan pembelajaran
5.       sesdudah: dapat mencari informasi secara mudah, lebih banyak menerima masukan pembelajaran,  bertambahnya ilmu dalam membaca.

Susi Hanadayani
Kelas : 6 SDN Karang Tengah 09
1.       Belum
2.       Mendapatkan manfaat untuk bisa belajar membaca dan bercerita atau menjadi faham cara menulis.
3.       Ya, kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk kedepannya agar tahu dulu saya menceritakan tentang cerita apa saja kepada orang lain
4.       Dulu saya tidak lancar membaca dibangku kelas dua, akhirnya saya berlatih membaca cerita, sampai sekarang alhamdulillah membacanya sudah lumayan lancar.

Miftahul Jannah
Kelas enam SDN Sudimara timur 05
1.       Belum
2.       Kegiatan ini bermanfaat selain bermanffat kita juga dapat ilmu dan dapat menceritakan lagi kepada yang lain.
3.       Iya, manfaatnya kita dapat mengingat ceritanya dan kita bisa menceritakan kembali
4.       Sebelumada kegiatan membaca dan bercerita saya masih kurang bisa menulis. Setelah ada kegiatan ni saya lebih bisa menulis dan saya bisa bercerita kepada yang lain.

Tika
Kelas IX SMP PGRI 1 Karang Tengah
1.       Belum
2.       Aku mulai PD untuk bercerita dihadapan orang banyak
3.       Iya, manfaatnya sekarang aku tahu cara penulisannya, cara jeda bercerita dan banyak lagi
4.       Kemarin kemarin kemampuan ku dalam bercderita sangatlah jelek, tidak tahu cara bercerita dengan benar dibandingkan dengan sekarang, alhamdulillah sedikit bisa dalam bercerita

Prawiningsih (Wiwin)
Kelas 6 SDN Sudimara Timur
1.       belum
2.       Lebih PD dalam bercerita kepada orang lain, karena aku bisa menceritakan cerita yang aku baca dan mengembangkannya kepada orang lain, juga tahu cara penulisan buku
3.       Ya, bisa lebih PD
4.       Sebelum: aku belum berani menceritakan dan mengembangkan cerita
Sesudah: Lebih PD karena tahu
Triyaningsih
SMP PGRI 1 Karang Tengah Kelas 9
1.       Belum
2.       Lebih PD
3.       Ya, melatih mental
4.       Sebelum: Pengalaman sedikit, dalam bercerita masih belum baik atau masih malu malu
Sesudah: Lebih terlatih, jadi lebih PD

Edi Saputra
Kelas IV SDN Karang Tengah IV

1.       Belum
2.       Menambah ilmu membaca
3.       Ya bermanfaat sekali
4.       Sebelum: belum tahu cara mengembangkan cerita yang aku baca
Sesudah: Aku bisa sedikit mengembangkan cerita dalam buku








Tuesday, May 29, 2012

Canda Ceria dan Gembira


Canda Ceria dan Gembira
Oleh: Alda Elvionicha P. (TIWI)
Siswa kelas 2 SMPn 10 Kota Tangerang
Tema: persahabatan
Jenis: Fiksi


Kriing…bel berbunyi dua kali. Itu tandanya istirahat, tak kusangka temanku sudah menunggu didepan pintu. Sambil memangil namaku akupun langsung lari dan menghampirinya. 

Lalu aku (kami) berjalan menuju kantin sekolah. Aku membeli roti, sedang temanku vina membeli jus. Setelah itu kami menuju taman yang sangat bersih dan indah (di halaman sekolah).

Kami disana tertwa, mengobrol, bercanda dan bergembira. Tiba-tiba…dorr! (ada suara mengejutkan kami) ternyata ada salah satu teman sekelasku (kami) yang ingin ikut bergabung. Namanya Lia. Dia mengagetkan kami berdua. Untung saja aku dan vina tidak punya penyakit jantung (karena kaget sekali)

Setelah (asik) mengobrol kami bertiga bermain dengan rasa senang. Mjungkin bukan hanya aku, vina dan lia saja yang seperti ini, tetapi kita bagaikan sahabat yang ngga pernah pisah (tidak bisa dipisahkan) walau badai menghantam.

Kriiing…bel berbunyi lagi, itu pertanda jam istirahat sudah selesai. Akupun bilang sama mereka sampai jumpa nanti pulang sekolah ya?

“iya jangan lupa nanti kita pulang bareng ya?” jawab vina sambil membuang gelas plastik bekas ia minum jus (ke tempat sampah).

“iya aku tunggu di gerbang ya?” jawab juga Lia sambil menunjuk kegerbang.
Sehabis (setelah) itu, aku, vina, dan lia segera masuk kelas masing-masing, untuk belajar kembali sapai nanti saatnya pulang sekolah.
Dan akhirnya aku dan teman-temanku terbiasa seperti itu, istirahat bersama, pulang bersama dan lainnya.
Kamipun seperti sahabat yang selalu bercanda, ceria dan gembira, dan tertawa tetapi kami tidak lupa kalau teman ada yang sakit kami selalu ada saat suka maupun duka.

Kegiatan Malam Kamis-an Pengajian Anak-Anak Nurul Islam Ciledug
Membaca dan Bercerita

Setiap rabu malam kamis santri kelas 4 s/d 3 SMP (senior) mengikuti kegiatan tulis menulis. Mereka diajarkan tehnik-tehnik dasar menulis oleh Kak Fiyan Arjun, yang memiliki cukup pengalaman dalam dunia tulis menulis. Untuk mengimbangi dan menumbuhkan sereta meningkatkan kemampuan menulis, maka setiap kamis malam jum'at mereka mengikuti kegiatan membaca dan bercerita. Kegitan ini digawangi oleh bang Gugun.

Setiap santri "senior" diminta untuk memilih dan membaca satu buah buku cerita yang telah disediakan oleh beberapa orang donatur yang menyumbangkan buku dan uang zakat, shodaqoh untuk dibelikan buku bacaan/cerita yang bernlai moral dan akademis.

Setelah mereka membaca dan memahami isi cerita buku tersebut mereka diminta menceritakan buku tersebut kepada para santri  "junior", yaitu mereka yang masih berusia 6-9 tahun. Sebelumnya para santri "senior" diberikan contoh/modeling bagaimana cara membawakan cerita buku tersebut. Setelah dianggap cukup mereka diberikan waktu sekitar 10 menit untuk menceritakan buku yang telah dibacanya kepada para santri "junior".

Nampak sekali keceriaan mereka membawakan cerita dan yang mendengarkan cerita. Tujuan dari pembelajaran seperti ini adalah memberikan kemampuan lancar membaca, memahami dan memberikan keahlian berkomunikasi, yaitu meyampaikan apa yang telah ia tahu dari buku yang ia telah baca dan mengembangkannya dengan apa-apa yang telah alami selama menjalani kehidupan.

Kegiatan yang baru pertama dilaksanakan ini insya Allah akan terus berlanjut, setelah menyaksikan semangat kakak yang bercerita kepada adiknya, ayo semangat, semoga kelak ada perubahan yang baik bagi kehidupanmu untuk menghadapi masa depan, amin.

Tuesday, May 15, 2012

Sinergi Alumni YISC; Mengumpulkan Puzzle Yang Berserakan


Sinergi Alumni YISC; Mengumpulkan Puzzle Yang Berserakan 

Alhamdulillah saya dapat mengenal beberapa individu yang pernah menempa diri di YISC Al-Azhar puluhan tahun yang lalu. Ini sebuah kebahagiaan karena diantara mereka saya  bisa mendapatkan pengalaman dari sharing pengalaman dan pengetahuan kehidupan dengan mereka yang lebih luas lagi. Mengapa hal ini bisa saya alami? 

Alhamdulillah sejak saya bergabung dengan YISC sekitar tahun1998, hingga menjadi pengurus sampai tahun 2002, pengurus YISC saat itu, termasuk saya di dalamnya tidak pernah memutuskan tali silaturrahim dengan mereka. Sebagai pengurus kami sangat menghargai mereka, dan kami tetap meminta mereka mengajar bapakah itu di BSQ, SII atau sharing dalam kajian yang lain di Forum dialog atau KABUKI, Kajian Buku Islam, tak terfokus pada buku tertentu dan pemahaman golongan tertentu sebgaimana periode 2003 sampai sekarang.


Pemikiran dan pemahaman keagamaan yang berkembang saat itu kami jadikan bahan dialog untuk mengetahui dasar-dasar filosofis mengapa pemikiran/pemahaman tersebut muncul, tak cuma membahas yang pemikiran sekuler, liberal, pluralis yang fundamentalis Islampun menjadi bahan kajian. Maka sepengetahuan pengalaman saya di YISC sampai era 2002 mereka masih memiliki pemikiran dan pemahaman tentang Islam yang open-minded (berpandangan terbuka) tidak mencaci maki, mendiskreditkan dan mengeluarkan dari keanggotaan/kepengurusan YISC. Entah setelah 2003 sampai sekarang, menurut kabar burung dan informasi yang saya dapat langsung dari anggota yang pernah berbeda pandangan dengan pengurus, “dimusuhi” dan disingkirkan, kejam kali ya.

Kini, para alumni yang sudah “dibersihkan” dan membersihkan diri dengan tetap terus berkomunikasi akhirnya melahirkan komunitas pengajian Raudhah, setelah bertahun-tahun menuntut ilmu dari berbagai kalangan dan golongan, hingga akhirnya kini sudah tersadarkan, pengajian raudhah tampil dengan kajian yang sedikit berbeda. Para alumni dan civitas raudhah yang bertebaran diajukan untuk menjadi pemateri, sesuai dengan pengalaman spiritualnya masing-masing, dan sifat kajiannyapun semakin berkembang dan kaya rasa.
Tak puas dengan hanya mengkaji akhirnya pencerahanpun muncul, lahirlah Raudhah Institute, yang kini masih berbentuk embrio. Secara spontan lahirlah sebuah kegiatan dakwah yang langsung bertemu dan melakukan pengabdian pada masyarakat. Dua kegiatan spektakulerpun dilakukan, pertama Pelatihan Guru PAUD di Depok dan kedua Baksos yang dikemas dalam bentuk penyuluhan kesehatan masyarakat dan Gigi balita di lingkungan RW 06 Kelurahan Sudimara Jaya Ciledug, Kota Tangerang, dan kini sedang dirancang kegiatan ketiga insya Allah akan berlangsung di akhir mei.
Sinergi luar biasa dahsyat telah terjadi, kebangkitan potensi Alumni yang berserakan mulai disusun membentuk puzzle yang cantik dalam bingkai dakwah sosial. Dengan moto “Untuk Pencerahan dan Pemberdayaan”, sinergi terus dibangun dan ditingkatkan demi pengabian pada masyarakat, “untuk melayani Tuhan”, kata bahasa agama teman saya. Selamat dan Sukses, Semoga Allah SWT selalu ridho dan menyelamatkan setiap aktivitas/program yang dijalankan Raudhah Institute.



Thursday, May 10, 2012

Salah Mencabut Gigi


Salah Mencabut Gigi
Oleh; Triya Ningsih Astuti
Siswa Kelas IX

“Ma, gigiku sakit banget nih”, Saya (aku) berkata sambil memegang pipi kananku. Mamaku menjawab, “ya udah besok ke Dokter gigi aja dari pada gigi kamu bengkak”, aku menjawab dengan dengan wajah yang suntuk. “Gigi aku itu mau copot tapi gak copot-copot, bukan bengkak”, ya udah besok ke dokter aja biar diperiksa kalo (kalau) misalnya gigi kamu mau copot ya udah di cabut aja, kat mama. Aku menjawab, ya udah deh.
Ketika aku berdiri di depan rumah sakit aku merasa ketakutan dan berminat untuk tidak mencabut gigiku ini. Tapi itu sudah terlambat ya sudahlah. Saya (aku) duduk dibangku paling ujung dengan mama aku untuk bergiliran masuk, hati saya (aku) semakin tidak tenang dan bingung, apa yang aku harus perbuat.
Nama aku dipanggil dan aku langsung masuk, saat sudah berdiri didepan dokte tiba-tiba tangan aku bergetar karena ketakutan, saya (aku) bekata, “ma entar saja ya, sambil memegang tangan mama saya (aku)pun langsung berlalri untuk keluar ruangan.
Aku dibukuk untuk masuk kembali tetapi aku tidak mau, karena aku sudah ketakutan suluan, akhirnya  (saya) aku menungu tiga orang untuk masuk duluan ketika sudah tiga orang saya (aku)pun masuk dan pasrah gigiku untuk dicabut.
Selesai di cabut hatiku langsung tenang, ketika aku berkaca di rumah ternyata dokter itu mencabut gigi yang baru tumbuhakupun menceritakan kepada mama aku.