Friday, May 27, 2011

Dimulai dari Membaca; Mengenal Buku (bagian kedua)


Dimulai dari Membaca; Mengenal Buku (bagian kedua)

Malam ini kami melanjutkan kegiatan minggu lalu, membaca.  Sebagaimana minggu yang lalu saya meminta mereka menghamparkan buku-buku dilantai setelah itu mereka memilih salah satu buku untuk mereka baca. Alhamdulillah, nampaknya mereka cukup antusias untuk membaca, tetapi jika melihat survey kecil-kecilan diantara empat belas orang yang menyempatkan membaca dalam sehari hanya dua orang, dua belas orang lainnya tidak. Dan buku-buku yang sering mereka baca adalah buku-buku pelajaran sekolah. Ini berarti secara umum mereka memang tidak terbiasa apalagi menyempatkan diri untuk membaca. Hal ini mungkin berkait erat dengan kondisi lingkungan, bahkan juga sekolah yang kurang memotivasi mereka untuk membaca, selain buku pelajaran, mungkin juga karena kondisi ekonomi arena mereka datang dari golongan ekonomi kelas bawah.

Setelah mereka membaca mereka diinstruksikan menulis tentang fisik buku seperti covernya, judul bukunya, siapa pengarangnya, penerbitnya, ada apa saja di dalamnya seperti pengantar penerbit, daftar isi jumlah halaman.  Setelah membaca aku meminta mereka menuliskan tokoh-tokoh yang ada dalam buku jika itu jenis bukunya cerpen atau novel, dan yang terakhir mereka diminta menceritakan kembali apa yang mereka telah baca, ini bertujuan mengikat apa yang telah mereka baca plus intinya mereka mau dan berani berbicara.


Membimbing mereka bukan perkara mudah, apalagi jika melihat kondisi yang ada, tapi jika diperhatikan secara jujur, sebenarnya mereka punya semangat untuk membaca, ini bagi saya yang menjadi point pentingnya setelah melihat situasii yang ada bagaimana cara menumbuhkan kebiasaan membaca. Di sinilah yang harus kita sampaikan kepada mereka akan “keuntungan” besar yang akan mereka dapatkan jika rajin membaca. Jadi ketika mereka membaca, mereka harus tahu apa keuntungan dari membaca untuk mereka.

Selain membaca mereka harus mau menulis dan menceritakan kembali, inilah yang saya sampaikan pada minggu lalu pada status FB saya "Membaca secara verbal adalah mengucapkan kata-kata, tetapi jika hanya mengucapkan kata tanpa mengikatnya menjadi percuma. Agar tidak percuma ikatlah dia dengan pemahaman, akan lebih bermakna lagi jika kita mengikatnya dengan perbuatan, sebab, itu akan menjadi pengalaman dan pengalaman merupakan guru terbaik kehidupan." (gun). membaca saja tidak cukup harus diikat dengan pemahaman dalam bentuk menceritakan atau menulis  cerita singkatnya/summary dari buku itu. langkah-langkah inilah yang akan dilanjutkan pada episode-episode berikutnya.

Mungkin ada yang bertanya, apakah saya sedang mengarahkan mereka menjadi penulis? Bisa ya, bisa juga tidak. Mereka punya potensi dan kecenderungan berdasarkan minat, kebutuhan dan keahlian, karena mereka adalah pribadi yang berbeda. Kalau mereka bisa menulis, minimal 
mereka bisa merecord pengalaman-pengalaman mereka.


Salah satu langkah/strategynya agar mereka terbiasa adalah mereka dianjurkan mempunyai buku catatan harian/diary, mereka diminta untuk mencatat berbagai pengalaman suka, senang, sedih, gembira, apa yang dilihat jika menarik dan lain-lain. Karena mencatat pengalaman hidup adalah  bagian dari membaca, membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Semoga usaha ini kelak akan membuahkan hasil, kita tunggu, untuk Indonesia lebih baik. Amin.



Thursday, May 26, 2011

Dimulai dari Membaca

Dimulai dari Membaca (bagian pertama)

Dimulai dari membaca, judul tulisan bersambung ini terinspirasi oleh pesan Allah SWT saat pertama menyampaikan berita gembira kepada utusan-Nya tercinta Muhammad SAW.
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (terj. QS. Surah al-Alaq (96) ayat 1 s/d 5)
Dan dari pesan agung itu pula saya mencoba menularkannya kepada murid-murid di pengajian anak-anak Nurul Islam, di Ciledug Kota Tangerang. Beberapa bulan sebelumnya saya memang sempat menuliskan via face book akan rencana kegiatan ini, Alhamdulillah ada yang terketuk dan mau peduli dengan mendonasikan uang zakatnya dan shadaqohnya yang kemudian saya salurkan dengan membelikan puluhan judul buku dengan beragam jenis saat Islamic book fair 2011 lalu.
13058500142011741979
Tadi malam (kamis 19/05/2011, ba’da magrib) puluhan judul buku dengan beragam jenisnya ada yang akademik/pengetahuan umum, novel remaja islami, cerita Nabi, pengetahuan agama, alquran, seri tokoh sejarah, motivasi, pecakapan bahasa inggris untuk anak dan lainnya. Apakah cukup? Jika berbicara cukup, tentulah sangat subjectif, kata cukup itu mewakili rasa, ketika kami mau memanfaatkan semaksimal mungkin apa ada, insya Allah rasa itu akan terpenuhi.
1305850159313650982
Nampak wajah-wajah gembira saat saya meminta mereka mengeluarkan buku-buku itu, dan meminta mereka menjejerkannya di lantai semen. Mereka tampak antusias melakukannya, awalnya saya hanya meminta tiga orang dari mereka, tetapi nampaknya yang lain juga ingin ikutan, tanpa dikomando mereka langsung membantu menata buku-buku tersebut berdasarkan bentuk besar, kecil, tebal, tipisnya buku itu. Terlihat juga diantara mereka yang sudah “ngetek” buku untuk dibacanya.
13058500702092000034
Menyaksikan hal itu, terbesit rasa syukur kepada-Nya dan ungkapan terimakasih teruntuk mereka yang telah peduli, insya Allah apa yang telah diberikan akan kami jaga dan kembangkan dengan menularkannya kepada yang lain karena ini adalah amanah. Insya Allah dengan rasa optimis semoga kegiatan ini membawa perubahan pola pikir dari yang selama ini nampak begitu menyedihkan. Maka untuk usaha merubahnya, meminjam istilah aa gym, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri (lingkungan terdekat), mulai dari sekarang, untuk masa yang akan datang lebih baik. Wallaahu’alam.

Thursday, March 24, 2011

Merayakan Maulid Nabi; Bolehkah?


Merayakan Maulid Nabi, Bolehkah?


“ dan Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa: 107)
Ummat Islam Indonesia telah menjadikan hari kelahiran/mauled Nabi Muhammad SAW yang bertepatan dengan tanggal perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal sebagai salah satu hari besar nasional dan menjadikan hari itu sebagai hari libur nasional. Acara ini dirayakan tidak hanya dalam lingkup rt/rw, tetapi telah diperingati secara nasional, kenegaraan. Lalu bagaimana sebenarnya pandangan ulama mengenai hal ini?  Lalu bagaimana kita bersikap? Berikut beberapa pandangan ulama yang pro (membolehkan) dan yang kontra (menyatakan bid’ah dan haram):
1.      Golongan ulama yang melarang dan mengharamkan memperingati kelahiran Nabi Muhammad berpendapat bahwa itu adalah hal baru dan berhubungan dengan ibadah, maka jika dilakukan hal tersebut masuk pada kategori bid’ah, nabi Muhammad tidak pernah melakukannya, berarti tidak ada contoh tidak ada dasar syar’inya jadi hukumnya haram[1].
2.      Sedang menurut yang mendukung perayaan mauled Nabi ini berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah ibadah mahdhah (yang utama) tetapi perayaan ini berhubungan dengan kegiatan social kemasyarakatan atau muamalah[2]. Mereka melogikannya seperti sebuah buku sirah nabi Muhammad SAW. Nabi tidak pernah memerintahkan untuk membuat buku sejarah hidupnya, bagaimana dengan yang membuatnya? Apakah telah melakukan bid’ah? Demikian juga mereka yang memiliki koleksi buku-buku tersebut. Dengan buku-buku tersbebut orang mengenal sosok Nabi dan akhlaknya, demikian juga dengan perayaan tersebut.
Mencoba memberikan analisa terhadap kedua pendapat tersebut. Saya sangat setuju dengan alasan yang dikemukakan ulama yang mengatakan bahwa peringatan itu adalah haram dan bid’ah. Pendapat pertama dasar pemikirannya adalah tidak adanya teks tertulis (sunnah) dari Nabi yang berupa argumentasi yang membenarkan, membolehkan, membiarkan, karena pada masanya tidak mengenal perayaan-perayaan hari lahir (ultah bahasa popnya). Karena tidak ada landasan hukum (dalil syar’i) plus analogi kekhawatiran akan terjadi pemujian yang berlebihan terhadap Nabi, atau bahkan penuhanan karen ini merupakan perbuatan syirik, menurut saya sangat tepat jika mereka berpendapat demikian.
Dan saya juga setuju dengan pendapat yang membolehkan memperingatinya, tapi dengan catatan. Jadi kalau begitu plin-plan dong? Kan harus tegas dalam beragama, begitu kira-kira pertanyaan yang akan muncul. Menurut saya pendapat kedua landasan berfikirnya adalah tataran kontekstual, social dan makna juga manfaat dari perayaan itu. Logika yang dikemukakan berkait tuduhan bid’ah mereka kaitkan dengan penulisan buku sejarah/sirah Nabi Muhammad yang memang tidak ada perintah maupun larangan atau tradisi nabi menulis perjalanan hidupnya. Penulisan sejarah Nabi tentu sangat bermanfaat bagi pengetahuan ummat terhadap sosok Nabi Muhammad, akhlak dan keluarga serta ajaran dari Tuhannya.
Lalu saudara pilih yang mana? Saudara telah mampu berfikir dan menentukan keputusan, sedang saya pilih yang mana? saya memilih pernyataan yang membolekan merayakan mauled nabi dengan catatan, perayaan tersebut diisi dengan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang membangun semangat pemahaman atas nilai-nilai perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya atau kegiatan-kegiatan social yang memberi manfaat bagi kehidupan. Tidak seperti yang banyak dilakukan hingga saat ini di daerah-daerah tertentu di Indonesia yang memperingati kegiatan mauled Nabi dengan kegiatan-kegiatan yang menampakan kemubaziran, hura-hura, bahkan mengarah pada perilaku syirik.
Memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW jika memang kita setuju, yang terpenting adalah mempelajari dan memahami nilai-nilai perjuangan, semangat, ibadah/pengabdian kepada-Nya sekaligus menginstrospeksi / muhasabah terhadap diri apakah perilaku kita berusaha mengarah kepada apa-apa yang diajarkannya atau malah sebaliknya. Bukan malah mengaitkannya dengan berbagai macam tradisi masa lalu yang kerap mengarah kepada perbuatan mubazir dan syirik, tentu hal ini sangat disayangkan karena telah menyimpang dari tujuan awal diadakannya mauled.
Rasulullah SAW tercinta adalah contoh teladan  bagi kehidupan, diutus untuk perbaikan kehidupan manusia dalam segala hal dengan dasar penuhanan dan ketauhidan kepada Allah SWT. Dia sang pembebas, reformis sejati bagi tatanan kehidupan manusia, yang beliau ajarkan tidak sekedar untuk di ketahui, tetapi diaplikasikan dalam kehidupan itulah letak kesempurnaanya. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (Qs. Al-Ahzaab (33):21).”
            Saya mencoba memahami esensi/tujuan dari memperingati lahirnya Nabi adalah untuk mengingat kembali, mempelajari, memahami, memaknai, dan mempraktekan ajaran Tuhan dalam kehidupan yang telah disampaikan melalui lisan dan kerja keras beliau dan para sahabat tercintanya, juga para pengikut setelahnya, penyimpangan dengan berbagai macam tradisi yang jelas tidak bersumber dari ajaran Islam berakibat mengaburkan esensi/tujuan peringatan itu sendiri.
            Memperdebatkan boleh atau tidaknya memperingati kelahirannya tentu kurang bermakna bagi kehidupan, masing-masing memiliki argumentasi yang sama-sama kuat. Bagi kita orang awwan bisa berfikir dan memilih menurut apa yang kita pahami. Jika anda sepakat dengan yang mengharamkan tak perlu kita mencaci, tapi berikan pemahaman. Jika kita setuju dengan yang merayakan introspeksilah diri apakah ada usaha mengikuti jejak langkah kaki beliau yang tercinta. Segala bentuk perbuatan, acara, ceremony yang jauh dari makna dan ajaran Nabi Muhammad SAW saat kita merayakan itulah yang harus kita jauhi karena itu mencederai ketauhidan itu sendiri. Wallaahu a’lam.



[1] http://www.islamhouse.com/p/72553
[2]http://blog.re.or.id/tentang-maulid-nabi-muhammad-saw.htm

Tuesday, March 1, 2011

Tayangan Musik (Live) Pagi Dan Pelajar Bolos; Di Biarkan Sajakah?


Tayangan Musik (Live) Pagi Dan Pelajar Bolos; Di Biarkan Sajakah?

Beberapa stasiun TV swasta beberapa tahun terakhir ini gencar menggelar hiburan music di mal-mal pada jam delapan pagi kurang lebih dengan segmentasi pasar anak seusia pelajar tentunya. Tayangan music tersebut ditayangkan secara live dengan daya tarik artis-artis yang menjadi idola dan lagu-lagunya digemari anak-anak, remaja, pemuda bahkan jika kita saksikan orang-orangtuapun tak mau kalah. Tak ada yang salah dan tak perlu dikritik jika memang memberikan hiburan gratis bagi rakyat dan lapangan kerja bagi para artis bahkan mungkin para pedagang asongan, tentu bernilai positifkan?.

Tapi jika kritik itu ada ini karena ada yang terasa janggal dan mengganggu tentunya. Sebagai seorang pendidik menyaksikan fenomena tayangan tersebut merasa perlu menyampaikan kritik, bukan dari sisi isi/konten tayangan, tempatnya dimana dan siapa artisnya, tetapi berkait dengan jam dan hari tayang. Tayangan live music yang ditampilkan salah satu TV swasta nasional tersebut kalau tidak salah dimulai dari jam delapan pagi dan ditayangkan full selama satu minggu berturut-turut dari mall ke mall. Lalu dimana masalah yang perlu dikritik? Jam tayang dan hari tayang. Kenapa? Acara music live tersebut ditayangkan di hari-hari aktif untuk belajar para penonton yang mayoritas pelajar.

Penulis tidak tahu apakah kementrian pendidikan nasional mengetahui atau tidak acara ini, atau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pernah melayangkan protes atau tidak pada stasion-stasion tersebut, lalu pihak sekolah dan pemda di jabodetabek yang merasa kehilangan murid atau tidak saat di daerahnya menjadi tempat dari aksi acara tersebut?

Yang pernah saya tahu dan terus terang saya salut membacanya, yaitu sikap tegas WaliKota Madya Tangerang, Bapak Wahidin Halim yang pernah memerintahkan anak buahnya menyetop tayangan music live tersebut di sebuah mall di tangerang dan mengkritik tayangan acara live music tersebut http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2011/02/15/brk,20110215-313586,id.html. Sebagai walikota tentu beliau bertanggung jawab rakyat yang dipimpinnya, terutama siswa-siswa sekolah karena beliau sendiri memang sangat konsen terhadap kemajuan pendidikan di daerahnya dan terhadap generasi muda yang dipimpinnya. Meski beliau sendiri nampaknya tidak pernah melarang jika acara tersebut diadakan pada hari libur dan liburan sekolah, tentu Karena ini tidak mengganggu siswa sekolah malah sebaliknya, acara ini tentunya menhibur, apalagi ditayangkan secara live.

Sebagai seorang guru tentu sangat prihatin dan pernah mencoba melihat sendiri tayangan tersebut, nyata-nyata benar adanya, ratusan anak-anak usia sekolah (tentu tanpa seragam) begitu antusias menikmati menyaksikan acara tersebut meski harus berjubelan dengan yang lainnya. Masalahnya bagaimana dengan sekolah mereka? Bukan tidak mungkin diantara mereka yang memang haus hiburan dan ingin melihat tokoh idolanya lalu rela dengan terpaksa meninggalkan bangku sekolah (membolos) sekedar menyaksikan sang idola menyanyikan lagu favoritnya diatas panggung, tentu ini sebuah kerugian besar tentunya.

Segaja saya tayangkan tulisan ini pertama merespon apa yang telah dilakukan walikota tangerang yang telah disampaikan sudah cukup lama dan kedua hingga saat ini sepertinya tidak ada berita atau respon dari pemerintah pusat, khususnya kementrian pendidikan dan KPI, juga para penggiat pendidikan lainya yang mengkritisi acara tersebut (mungkin sih ada tapi penulis tidak tahu). Sebagai manusia kita memang butuh hiburan, tapi jika hiburan itu mengganggu proses pencerdasan dan peningkatan kualitas sumber daya anak bangsa apakah kita harus mendiamkannya?

Monday, February 7, 2011

Surat Terbuka Buat Presiden, Pemda DKI dan Sekitarnya

Usul Buat Presiden, Pemerintah DKI Jakarta dan Sekitarnya;
Mengatasi kemacetan serta Kesemrawutan Kota Jakarta Ibu Kota Negara RI

Macet, makanan harian masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Makanan ini sangat pahit sekali dan boleh dikata tak ada yang menyukainya. Berbagai upaya dilakukan, membuat jalan tol (he..he..he..sama aja) membuat fly over (kaga ngaruh), menggali under pass (ha..ha..podo wae), menambah lebar jalan? Kaga mungkin. Usul pemindahan ibu kota? Mungkinkah? 3 in one, he..he..he..ada pekerjaan baru, jadi jockey meski sering kucing-kucingan meski ogah-ogahan dari satpol PP, pusing…bingung…pemerintah, pemda, anggota DPR, pengusaha dan siapa saja.
Pertumbuhan kendaraan bermotor yang begitu pesat dan sangat mudah bagi setiap orang memilikinya menjadi salah satu daya tarik pemerintah untuk tetap mempertahankan karena pajaknya menggiurkan, meski uang pajak rakyat kerap kali menjadi permainan dan makanan empuk mereka-meraka yang mengerti bagaimana cara menyelewengkannya. Macet…cet…cet…, pusing..sing..sing…telat..lat..lat.
Hampir semua pengendara kendaraan bermotor dengan senang hati melanggar aturan lalu lintas, metro mini, angkot, mayasari bakti, PPD, kopaja, tukang beca dan bajaj menjadi raja jalanan, pejalan kaki memang tak punya hak di jalan, sebab trotoarpun menjadi sasaran penyelewengan pedangan tanaman hias, juga motor-motor yang ingin cepat sampai. Melanggar, ditilang ah..bukan masalah, entar juga keluar lagi, kong kalingkong kemacetan menjadi masukan bagi oknum-oknum nakal, weleh…weleh...negeriku tercinta.
Aturan dibuat memang untuk dilanggar, sebuah pepatah yang sebenarnya sangat merendahkan martabat penguasa dan pengelola negeri, tapi, ah emang gua pikirin, sebab mereka masih bisa berjalan lancar dalam ketersendatan, bisa pake jasa patwal, dengan sirinenya yang mengaung-ngaung. Habis akal, bus way tak bisa menjadi solusi, kereta jabotabek kerap merugi…aneh yah…penumpang berjubel tapi rugi terus, cling! Kenapa ya? Kendaraan umum banyak yang tak layak beroperasi tapi demi keuntungan tancap terusss, penumpang, pengguna jasa angkutan umum tetap menjadi yang kena rugi. Konsumen adalah raja??? Raja apa ya?
Itu gambaran kesemrawutan lalulintah negeri ini, ada yang bilang dan saya juga berpendapat demikian, bahwa untuk melihat seseorang lihatlah ketika ia di jalan saat mengendarai kendaraan roda empat atau dua, trus kesemrawutan lalu lintas juga menjadi ukuran kemampuan atau tidaknya para pengelola negeri.
Usul Kongkrit
1.       Pemerintah harus tegas…gas..gas dalam menegakan hukum di jalan
2.       Berikan kenyamanan bagi para pengguna bus/kendaraan umum
3.       Jadikan semua jalur masuk jalanan Jakarta terapkan 3 in one (untuk membatasi penggunaan kendaraan masuk Jakarta)
4.       Buat lahan parkir besar (mall parkir) yang nyaman aman (resmi dan dijamin pemerintah) dan terlindungi pada titik-titik perbatasan antara Jakarta, tangerang, bogor dan bekasi untuk mengurangi kendaraan masuk Jakarta.
5.       Siapkan moda transportasi dari tiap mall parkir tersebut  yang nyaman menuju pusat-pusat bisnis, pemerintahan dan sekolah.
6.       Berikan kenyamanan pada setiap jalur kereta, karena ini satu moda transportasi yang merakyat
7.       Tata dan atur ulang moda transportasi angkot dan bus-bus yang hanya memikirkan keuntungan pengusaha angkutan semata, hal ini membuat para sopir mereka kejar setoran dan mengabaikan keselamatan penumpang.
Itulah kira-kira ungkapan hati penulis untuk presiden, para anggota DPR yang pastinya sering melakukan kunjungan keluar negeri dengan menggunakan uang pajak rakyat  untuk melakukan studi banding yang berhubungan dengan moda tranportasi masal, pemerintah daerah dan DPRD (tabobek).
Kemacetan (saya sangat yakin) sebenarnya bisa diatasi tanpa harus membuat jalan yang memang sudah kehabisan lahan di Jakarta. Ketegasan dan keberanian menegakkan aturan pemerintah itu kuncinya, solusi efektif, kreatif dan inovatif dari hasil studi banding anggota pemerintah maupun DPR, tinggal mau atau tidak mereka melakukannya.
Menambah ruas jalan, membuat underpass, fly over, monorail bukanlah solusi, tapi itu bisa menjadi solusi jika para pengambil keputusan mau berfikir yang menjadi akar dari masalah. Membatasi pengunaan kendaraan pribadi dan kendaraan masuk ke dan dari Jakarta pada hari-hari kerja serta mau legowo menyediakan fasilitas umum dan moda transportasi yang aman, nyaman menuju fasilitas-fasilitas bisnis, pemerintah dan sekolah itulah akar masalah kemacetan negeri ini, tapi…entahlah apakah mereka mau memikirkan usulan ini, wallaahu a’lam.





Wednesday, February 2, 2011

Tuhan Itu Cuma Hayalan Manusia


Tuhan Itu Cuma Hayalan (mimpi) Manusia

Mungkin ada manusia yang berpendapat seperti ini. Sebagai sesama manusia hendaknya kita bisa memahami mengapa ada diantara kita yang berkata demikian, tentu ucapan itu ada “asbabunnuzul”nya sehingga keluar ucapan dari pemikirannya. Andai kita mau berfikir kata-kata tersebut ada benarnya juga. Mengapa? Karena sampai saat ini tidak ada satupun manusia yang pernah melihat wujud Tuhan (ini khusus bagi yang mengaku muslim). Tuhan di yakini ada karena informasi kitab suci, begitu kira-kira, atau pesan para Nabi yang tercatat dalam perjalanan sejarah (hadits).

Tidak ada berita hingga saat ini  yang mengabarkan ada manusia yang mampu  melihat Tuhan, seorang Nabi sekalipun tak mampu menggambarkannya. Menurut saya jadi sangat wajarlah ungkapan itu. Hingga saat ini boleh dikata demikian, Tuhan masih berupa hayalan bagi manusia. Demikian saya berfikir, selama manusia masih tinggal pada tempat-Nya yang serba terbatas ini (dunia), maka selama itu pula Tuhan masih berupa hayalan manusia.

Secara pribadi (sebagai seorang muslim) saya tak sependapat dengan mereka yang berpendapat demikian. Mengapa? Tahukah kita bahwa berbagai macam penemuan yang mencengangkan berawal dari sebuah hayalan. Lain dengan Tuhan yang saya yakini, Dia tak bisa dikhayalkan/dimimpikan untuk digambarkan. Dan kita bisa lihat bagaimana realitasnya jika Tuhan diwujudkan dalam suatu yang kongkrit? Setiap manusia tentu  punya gambaran yang berbeda satu sama lain tentang-Nya.

Tuhan bagi yang meyakini-Nya, Dia, ada, lain hal dengan mereka yang mengingkarinya, Dia, tiada. Di dunia ini, ada dan tiada merupakan sesuatu yang saling berhubungan. Ada karena tiada, tiada karena ada, dan ada karena ada. Dia bukan hayalan/impian, karena memang Dia diluar hayalan manusia. Dia ada dalam keyakinan, dan sangat sulit bagi kebanyakan orang meyakini ke adaan-Nya. Mengapa sulit? Karena manusia ada dalam dunia nyata yang serba ada (materi, materialistis).

"Perbedaan antara manusia yang meyakini Tuhan dengan yang mengingkarinya itu adalah hati (qalb) dan di hati itu pulalah letaknya sebuah keyakinan. Maka orang yang meyakini-Nya seharunya harus lebih “berhati” dari yang tidak meyakini-Nya"