Thursday, December 17, 2009

Menghitung Hari Detik Demi Detik (Renungan Lagi)


Menghitung Hari, Detik Demi Detik
(renungan lagi)

Merupakan sebuah keharusan bagi kita jika ingin meningkatkan kualitas hidup secara spiritual untuk melahirkan keshalehan sosial dengan senantiasa melakukan perhitungan terhadap diri. Menghitung hari, detik demi detik. Berhitung dalam arti melakukan koreksi terhadap perbuatan diri atau dalam bahasa popolernya Muhasabah.

Dalam catatan sejarah Islam misalnya, kita bisa melihat ungkapan dua orang sahabat Nabi tercinta, Umar dan Abu Bakar ash-shiddiq. Khalifah umar pernah berkata, “hasibu qobla an tuhasabu”, “hisablah dirimu sebelum kau dihisab”. Koreksi dirimu sebelum dikoreksi oleh Sang Maha Pengoreksi. Sebuah wanti-wantu agar kita sadar dan tidak termasuk dalam golongan manusia yang melihat tapi buta, seperti kata pribahasa populer yang pernah dinyanyikan oleh Bang Haji Oma Irama, “semut yang diseberang lautan jelas kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan.” Sungguh keterlaluan, luar biasa kebodohan diri ini, semoga Allah menjauhkannya dari diri kita..

Dalam pidato kenegaraannya Abu Bakar ash-shiddiq ketika dilantik menjadi seorang khalifah, pernah mengucapkan untaian kalimat yang sangat indah dan penuh makna, ia berkata;“wahai manusia, aku telah diangkat menjadi pemimpinmu tapi aku bukanlah orang yang terbaik diantara kamu”. Sebuah kecerdasan dan kejujuran spiritual yang luar biasa, tentu ini lahir dari kesadaran diri, sehingga kebesaran yang disandangnya tak membuat dirinya merasa besar, kekuasaannya tak membuat dirinya menjadi penguasa. Kebesaran dan kekuasaan tak membuat mereka buta, sehingga amanah yang ada dipundaknya dijadikan legalitas untuk menzhalimi rakyat serta memperkaya diri sendiri, keluarga, kelompok, golongan atau partainya. Inilah yang terjadi hampir disemua sisi kehidupan para penguasa (bukan pemimpin) dan pejabat negeri.

Sebagai manusia apa daya dan kekuatan kita? Adakah materi dunia yang kita miliki saat ini mampu membahagiakan diri kita pada hidup yang sebenarnya nanti? Tapi sayang nafsu serakah terkadang menutupi kesadaran kita. Sehingga kita lupa, lalai. Ketika lupa/lalai menutupi secara permanen kesadaran spirtual, maka sengsaralah hidup ini, kini dan yang akan datang, naudzu billahi min dzalik. Hal ini terangkum dalam peringatan-Nya, ”khatamallaahu ’alaa quluubihim wa’alaa sam’ihim wa’alaa abbshaarihim, ghisyaawatun walahum a’dzaabun ’azhiim.” (QS. Al-baqarah (2): 7)

Maka menghitung hari, detik demi detik, dalam arti mengkoreksi diri, bermuhasabah, tujuannya adalah melihat borok-borok diri, diikuti dengan langkah-langkah pengobatan sampai borok-borok itu dapat disembuhkan. Sehingga diri ini tidak termasuk dalam golongan yang ”fii quluubihim maradhun fazaadahumullaahu maradhaa, walahum ’adzaabun aliimun bimaa kaanu yakdziibuun” (QS. Al-baqarah (2): 10) akan tetapi termasuk dalam golongan, qad aflahal mu’minuun ... (baca sampai ayat 11).”, sehingga diri kita menjadi bagian orang-orang yang diundang oleh-Nya, ”yaa ayyatuhannafsul muthmainnah irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatammardiyyah, fadhkhulii fii ibaadii wadhkhulii jannatii, (al-Fajr (89); 27, 28, 29, 30) subhanallah, sungguh indah luar dan biasa, menjadi tamu kehormatan-Nya. Mau? Mari menghitung hari (diri). Hanya bisa jika ada kesadaran diri. Wallaahu a’lam.

Wednesday, December 2, 2009

Takut Kepada Allah


Takut Kepada Allah

Mungkin kita sering mengucapkan kalimat seperti judul di atas. Lalu apa pemahaman kita tentang maksud kalimat yang kita ucapkan itu? Takut seperti apa? Apakah seperti ketakutan melihat hantu, takut seperti orang yang sedang dikerjar kejar debt collector, khawatir, stress, depresi, takut disadap KPK karena perasaan bersalah telah melakukan korupsi? Atau takut seperti orang yang sedang berhadapan dengan anjing galak? atau takut mati?

Kata takut dalam kamus besar bahasa indonesia edisi online di katakan: ta•kut a 1 merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana: anjing ini jinak, engkau tidak perlu --; 2 takwa; segan dan hormat: hendaklah kita -- kpd Allah; 3 tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dsb): hari sudah malam, aku -- pulang sendiri; 4 gelisah; khawatir (kalau ...): ...”

Dari keempat arti kata yang terdapat dalam kamus tersebut hanya satu yang wakili, yaitu takut dalam pengertian takwa. Kata yang lebih mendekati tepat dari pengertian takwa adalah tunduk, patuh dan taat dengan dasar nalar, kesadaran, pengenalan dan cinta, bukan karena paksaan atau ketidak berdayaan. Takut dalam arti takwa akan melahirkan sebuah sikap/perilaku yang selaras, harmonis, ikhlas, dan rasa nyaman yang muncul secara otomaits inilah akhlakul karimah.

Jika kita merasakan rasa bahasanya, kata takut itu berhubungan dengan perasaan. Jika perasaan itu dasarnya adalah keinginan/hasrat, maka gambarannya seperti berada ditengah kebun/taman bunga di atas bukit yang berudara sejuk lagi segar. Hal seperti ini yang hadir dalam diri adalah kenikmatan dan kesenangan. Sebaliknya takut dasarnya adalah kekhawatiran, kecemasan, maka gambarannya seperti berada pada sebuah tebing yang curam dengan ketinggian 1000 meter di bawahnya terdapat sungai yang dangkal serta dihuni oleh buaya-buaya lapar dan liar. Tapi jika kenikmatan dan kesenangan yang kita rasakan tidak dibarengi oleh kesadaran, nalar dan pengenalan yang berujung cinta akan keterbatasan kenikmatan tersebut saat ini (di dunia), maka yang ada adalah ketakutan dan kekhawatiran akan kehilangan apa yang sedang dirasakannya saat itu. Maka ini tak ubahnya sebagaimana hal yang sebaliknya, yang akan berakhir dengan penderitaan, karena kekhawatiran dan ketakutan.

Jadi agar yang kita dapatkan dari rasa takut adalah kebahagiaan, maka takut itu harus didasari oleh kesadaran, nalar dan pengenalan yang berujung cinta. Maka ungkapan kata takut kepada Allah maksudnya adalah cinta kepada-Nya. Sebuah ketundukan, kepatuhan dan ketaatan yang hadir karena kesadaran, nalar dan pengenalan akan eksistensi-Nya. Wallaahu a’lam.

Monday, November 9, 2009

Cicak versus Buaya dan Si Kancil dan Buaya


Cicak Versus Buaya serta Si kancil dan Buaya
Sebuah Simbol Negeri Simbol

Istilah ini menjadi sangat populer akhir-akhir ini, kepopulerannya tentu saja akibat peran media massa yang gencar memberitakannya. Bebrapa terbitan Koran tempo yang saya baca misalnya (maaf bukan promosi), akhir-akhir ini semakin gencar mengungkap kebenaran cerita Cicak versus buaya. Ungkapan populer dari seorang perwira tinggi polisi di negeri ini (walau sudah diklarifikasi oleh petinggi yang lainnya disertai permohonan maaf, dan meminta tak menggunakan lagi istilah ini). Entah apa yang mendasarinya, tapi jika kita mau berfikir ungkapan ini mewakili realita dari dua institusi yang kini sedang ramai diliput media dan menjadi perbincangan banyak orang, Polisi plus Kejaksaan Agung versus KPK, buaya versus cicak.

Cicak untuk KPK dan Buaya untuk Polisi. Cicak dan Buaya menggambarkan dua symbol kelemahan karena kecil dan kekuatan karena besar. Dalam dunia fauna cicak hidup dan makanannya serangga-seranggga kecil. Tak ada yang takut padanya karena bentuknya yang kecil, walau ada yang jijik dan sebel karena bentuk atau suaranya yang sepertinya meledek, cek...cek…cek. Ia tinggal di darat (kering, ingat kering). Ia tidak mengganggu manusia atau merugikannya secara langsung, sampai saat ini tak ada berita yang menyatakan orang mati karena serangan dan gigitannya. Jika sang Komisaris Jenderal mengungkap KPK dengan symbol cicak, inilah kenyataannya. Kita bisa memahami apa maksudnya.

Lalu bagaimana dengan buaya? Ia dikenal dan digolongkan sebagai sosok binatang buas, dari tatapan mata dan gigi taringnya menunjukan ia tergolong makhluk pemakan daging. Ia tinggal di air (basah, ingat basah), menggangu manusia? Tentu saja, saat dia lapar atau ada orang yang ”memasuki habitanya”, air, sungai atau muara, bahkan laut. Kata buaya dalam istilah bahasa Indonesia mempunyai konotasi negatif, merugikan satu golongan manusia dengan tipu daya, misalnya lelaki buaya atau buaya darat. Jika sang Komisaris Jenderal mengungkap institusinya dengan symbol buaya, ini juga bisa jadi kenyataannya dan kita bisa memahami apa maksudnya.

Namun jika kita simak kehidupan keduanya dalam dunia fauna, alangkah tepatnya kata-kata sang Komisaris Jenderal itu. Itulah institusi kepolisian negeri ini, senang atau tidak, suka atau marah, bak sarang buaya. Jika mangsa masuk dalam areanya, kecil kemungkinan akan selamat, kecuali jika sang mangsa ”cerdas”, mungkin bisa selamat dari gigitannya. Masih ingat cerita pengantar tidur dari buku bacaan yang setia menemani saat kita duduk di sekolah dasar? si Kancil dan buaya. Si kancil, binatang kecil yang ingin menyeberang sungai, tapi apa daya sungai dipenuhi oleh buaya-buaya yang lapar. Tapi berkat kecerdikannya, sang kancil selamat, ia berhasil memperdaya ratusan buaya. Fenomena dalam cerita si kancil dan buayapun bisa menjadi cermin atau gambaran real kondisi satu institusi penegakan hukum negeri in.

Kini setelah pimpinan ”cicak” yang tersisa masuk dalam jeratan ”buaya” dan konco-konconya, saat warisan-warisan kebusukan orde baru mulai terungkap, dengan alasan yang sangat tidak masuk akal dan berubah ubah berbau dominasi arogansi dan kekuasaan. Tapi kini masalah menguak, semua orang terhenyak menyaksikan sandiwara yang mempertontonkan kebodohan para sebagian kecil pejabat yang takut reputasinya melorot. Peran besar media masa patutlah diacungi jempol. Menyaksikan sandiwara ini penulis teringat pepatah lama yang mengatakan "sepanda-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga”, atau ”serapat-rapatnya bangkai disimpan, baunya tercium juga”.

Alhamdulillah, dukungan deras mengalir dari segenap penjuru mulai mantan presiden sampai rakyat jelata, entah dengan hati ikhlas demi membela kebenaran atau dengan embel-embel dibelakangnya, yang pasti korupsi yang telah mendarah daging di negeri ini, bangkai peninggalan kebusukan ”orde baru dan antek anteknya” telah menjadi virus mematikan dan menyebarkan penderitaan rakyat seakan tak berujung pangkal, semua disebabkan mandulnya ”pisau-pisau” dari unsur-unsur penegakan hukum negeri ini. Siapa kuat dia selamat, karena keserakahan hukumpun tergadai. Semoga kejadian ”cicak versus buaya” ini semakin membuka mata hati seluruh rakyat Indonesia yang telah lama merindukan negeri yang damai dan sejaktera.

Tulisan ini merupakan bentuk dukungan untuk Pembebasan Kebenaran dari Belenggu Kezhaliman. Tulisan ini sebagai bentuk dukungan untuk Indonesia Bersih dan Rakyat Sejahtera, tanpa korupsi dengan berbagai macam bentuknya, kecil atau besar, korupsi adalah bahaya laten, jahat dan membahayakan, Allaahu Akbar!!!.

Tuesday, November 3, 2009

Uang dan Pengaruhnya


(gambar: treest.wordpress.com/2009/03/18/uang-bahagia)

Uang dan Pengaruhnya

Dahsyat! Sambil mengeleng-gelengkan kepada, luar biasa!, begitulah kira-kira ungkapan ketika kita mau memikirkannya, astagfirullah, begitulah ketika kita menyaksikan fenomena yang tak tersadari dari sebuah kata yang hanya terdiri dari 4 huruf satu bunyi, Uang. Siapa mau?

Karenanya ada lagu yang tercipta. karenanya peradaban manusia semakin berkembang. Karenanya pula konflik tercipta dan kehancuran melanda. Orang menjadi senang jika memilikinya, juga ada gila karena tak sepeserpun hadir dikantongnya. Bunuh diri karena kebanyakan atau kekurangnya kerap kita lihat dan dengar dari berita. Bernilai positif dan negatif, bagai dua sisi mata uang sebagaimana ia dicipta.

Sebuah potongan syair lagu yang pernah top di tahun 80an misalnya, ”...uang bisa bikin senang tiada kepalang uang bikin mabuk tiada kepayang, lupa sahabat, lupa kerabat, saudara, mungkin juga lupa ingatan...”. atau sang raja dangdutpun dalam syairnya pernah mengungkap, ”semua orang mencarinya, dimana rupiah berada walaupun harus nyawa sebagai taruhannya banyak orang yang rela cuma karena rupiah. Tiada orang yang tak suka dengan yang bernama rupiah ...”. begitu kira-kira, tologn dibenarkan jika salah mengutip.

Dari potongan-potongan syair tersebut nampak kepada kita realita dari dahsyatnya pengaruh uang pada kehidupan. Begitu mempesonanya uang sehingga membuat diri lupa daratan. Penghargaan yang berlebihan atasnya telah membuat banyak manusia menderita. Penderitaan yang dibuat oleh kebodohan karena pendewaan. Ikatan keluarga, pernihakan, saudara, terpecah karena (uang) warisan, putus sahabat bisa karena uang, bahkan peperangan antar negara bisa terjadi karenanya, uang telah menjadi tuhan.

Apa yang kau cari? Pergi pagi pulang petang. Menguras pikiran dan tenaga serta banting tulang. Siang menjadi malam, malam menjadi siang, ada yang rela menjual diri bahkan kehormatan, tak lain untuk mendapatkan uang. Lalu setelah kita dapatkan, untuk apa? Tak lain dan tak bukan untuk menghilangkan dan memenuhi kebutuhan. Cukup? Selama masih menjadi manusia tak ada kata cukup, kurang? Pastinya, selama dunia materi masih mengikat dan mendominasi.

Hal ini dapat kita saksikan dari fenomena kemaksiatan di negeri ini, ada korupsi, kolus yang semakin marak di negeri ini. Demi uang, ada yang telanjang dan mengatas namakan seni, menghabur-hamburkan uang demi mendapatkan kepuasan sesaat, terjerat dalam lingkaran setan karena judi dan prostitusi, mereka bukan tidak punya uang, mereka banyak uang. Kalau menderita karena tak punya uang boleh dikata wajar, tapi jika sengsara akibat kebanyakan uang, tentu ada sesuatu dibalik itu.

Uraian tersebut seakan menyatakan dalam hidup tak ada aktivitas yang luput dari uang. Dari amal ibadah dan yang bernilai ibadah hingga maksiat yang paling hina sekalipun, peran uang tak bisa dipandang sebelah mata. Misalnya ada diantara kita yang ingin beribadah, tapi dalam prosesnya ada unsur maksiat di dalamnya. Misalnya, seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji, kuota terbatas, tapi berkat uang ia bisa mendapatkan peluang melaksanakannya. Dan karena uang juga penyelenggara ibadah haji mempermainkan hamba Tuhan. Fenomena semacam ini membenarkan pepatah yang sangat menyedihkan, ”dengan uang semua lancar bersama uang urusan selesai”, innalillaahi wa inna ilaihi raajiuun.

Inilah kehidupan manusia, dan kita semua ada dalamnya. Kini kita sedang memegang peranan dan dalam peran itu uang menjadi bagian yang tak terpisahkan. Mampukah kita mengendalikan uang, atau malah dikendalikannya? Jika kita mampu mengendalikan uang, insya Allah kebahagiaan akan menyapa, tapi jika sebaliknya penderitaan segera hadir di depan mata, nauudzubillaahi min dzalik. Semoga tulisan bisa menjadi perenungan diri untuk menjadi yang terbaik dalam pandangan-Nya, amiin.

Monday, November 2, 2009

Ketika Ustadz/Kiyai Menjadi Poli tikus dan Selebritis

Ketika Ustadz/Kiyai Menjadi Poli tikus dan Selebritis

Entah, sebenarnya mereka sadar atau tidak akan peran mereka sebagai model ditengah ”kejahilan” ummat sangant berpengaruh ketika media massa (TV) memaparkan akhlak mereka sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Ketika kecacatannya diperlihatkan media, umatpun menjadi bimbang, bingung karena tokoh yang mereka puji-puji selama ini, menjadi bahan menjadi ejekan mereka-mereka yang memang tidak menyukainya sejak awal ketenarannya dengan berbagai alasan tentunya.

Ustadz/Kiyai Berpolitik
Kita bisa lihat beberapa diantara mereka yang mencoba lahan yang satu ini, entah apa yang melandasinya, mungkin saja kemuliaan agama yang diusungnya, tapi bagaimana realitannya. Politik dikenal kotor, licik dan penuh intrik, sehingga ada pendapat yang mengatakan kalau anda ingin menjadi orang baik jauhilah dunia politik, meski penulis sendiri masih kurang sependapat. Ustadz/kiayi berpolitik, selama terpatri kuat dalam dirinya untuk berdakwah, menjadi penyejuk dan pewarna dominan dalam komunitas tersebut sehingga bisa merubah image komunitas ini, bisa menjadi sebuah keharusan. Tapi apa daya ustadz/kiyai juga manusia. Pernak pernik dan tipuan-tipuan halus yang samar menyeret sang ustadz/kiyai dalam kotornya permainan. Berapa puluh orang kiya/ustadz yang ada diparlemen negeri ini? Lalu bagaimana pandangan kebanyakan rakyat Indonesia terhadap media ini? Pudarlah imagenya, ummatpun dibuat terombang ambing dalam ketidak pastian. Sungguh ironis. inikah warisan para nabi?

Ustadz/Kiyai Bak Selebritis
Jika kita mengamati seluk beluk ustadz/kiyai yang sadar atau tidak telah menjerumuskan diri dalam dunia selebritis, ketika media massa, televisi tumbuh bak jamur dimusim hujan boleh dikata sejaka era 90 an lah dan munculnya dai-dai yang menjadi seleb mulai merebak kira-kira tahun 2000anlah. Untuk mendobrak rating beberapa stasiun televisi menggelar acara pemilihan dai-dai bak idol-idolan versi Indonesia. Terlebih saat-saat ramadhan, terlihat sekali persaingan ketat antar stasiun televisi untuk menampilkan ustadz/kyiai yang ”populer” dengan predikat masing-masing, ada ustadz gaul, ustadz cinta, diantara merekapun ada yang menjadi iklan komersil produck-produk konsumtif, ketenaran dan popularitas yang menghapus idealitas. Walau kita juga bisa menyimak tayangan media tv ustadz/kiyai betulan yang memang secara tampil dengan pola academis bukan hiburan.

Demikian halnya bukanlah sesuatu yang terlarang jika ustadz/kiyai masuk dalam dunia selebritis, sekedar mewarnai dengan nilai-nilai Islami. Merubah gemerlap dunia ini menjadi lebih beradab. Tapi apa daya, sekali lagi ustadz/kiyai juga manusia, pernak pernik dan tipuan-tipuan halus lagi samar menyeret sang ustadz/kiyai dalam buayan gemerlap permainan. Pudarlah imagenya, ummatpun dibuat terombang ambing dalam ketidak pastian. Sungguh ironis.

Ustadz/kiayi dalam pandangan masyarakat umum adalah tokoh yang ”suci”, padahal ia bukan ”nabi”, ia manusia biasa yang memang diberikan ”kelebihan” khusus atau karena memang kebetulan saja karena media telah mengangkatnya naik bak selebritis yang ”dipuja”, sehingga ’tarifnyapun mahal tak terjangkau kalangan yang terpinggirkan dari sisi ekonomi. Ketenaran telah membuat mereka lupa akan tugas sucinya sebagai warisan para Nabi. Nilai dakwah yang luhur dan non komersil setelah tenar menjadi komersil, mereka-mereka yang berduit berlomba memintanya menjadi ”penghibur” rasa haus akan nilai-nilai islam. Yang paling menyedihkan dikampung-kampung terpencil penduduk mengumpulkan patungan mengumpulkan uang, demi menghadirkan ustadz/kiyai yang menjadi idola dan pujaan, menyedihkan, inikah warisan para nabi?

Kesimpulan ada pada diri kita masing-masing, mudah-mudahan pesan ini tersampaikan pada kita semua yang sedang berperan dalam dakwah Islam, muliakan Islam bukan mempermalukan, tinggikan Islam bukan merendahkan. Terkadang kita tidak sadar bermaksud memuliakan malah mempermalukan, bermaksud meningikan malah merendahkan. Islam adalah zat pewarna, ia dapat mewarnai jika dituliskan padanya, tetapi tidak semua bahan dapat diwarnai olehnya, tergantung dari bahan apa media itu dibuat. Setelah kita terwarnai dapatkah warna itu mewarnai yang lain? By the way kita ini termasuk bahan yang dapat diwarnai atau tidak? Wallaahu a’lam

Tuesday, October 27, 2009

Agama dan Politik

Agama dan Politik;
Sekedar celoteh iseng-isengan

Agama dan Politik
Agama dan politik merupakan satu hal yang berbeda jika dilihat dari sisi definisi. Tapi agama dan politik bisa bagai dua sisi mata uang, bersatu tapi tidak bertemu. Agama mengajarkan keshalehan pribadi dan sosial, sedang politik hingga saat ini dan dalam realitasnya mengajarkan siasat, strategi, lobi, yang berinti pada kekuasaan. Ketika orang telah berbicara kekuasaan, dominasi mayoritasnya adalah nafsu serakah, keinginan untuk berkuasa. Jika hal ini yang terjadi maka kesalehan pribadi dan sosial akan terpinggirkan, demi kekuasaan, bukankah ini yang terjadi di dunia ini? Dalam politik kita mengenal kiasan yang aneh tapi nyata, ”tidak ada kawan abadi yang ada adalah kepentingan abadi”. Jika berbicara kepentingan ini juga berkait erat dengan kekuasaan. Demi kekuasaan lawan bisa jadi kawan

Politik Agama
Politik agama, saya memahami politik agama sebagai usaha memasukan nilai-nilai agama dalam kehidupan berpolitik. Orang yang berpolitik dengan agama tujuannya bukan kekuasaan tetapi untuk memperjuangkan kesejahteraan hidup konstituennya, yaitu ”rakyat”, golongan manusia yang paling tersingkir hidupnya dalam perang para politisi untuk kekuasaan. Memasukan nilai-nilai agama dalam perpolitikan dinegara ini mungkin pernah ada (pada jaman dahulu) sekaligus dicontohkan oleh politisi yang beragama. Tapi Politik agama akan sangat memiliki arti yang sangat mengerikan jika agama dijadikan object politik/ politisasi agama. Ketika term-tem agama dijual hanya untuk mendapatkan dukungan kekuasaaan maka hilanglah ruh keagamaan itu sendiri yang pada intinya mengajarkan manusia pada keshalehan sosial dan ritual. Sebelum berkuasa panji-panji agama senantiasa berkumandang dari bibirnya, tetapi setelah mendapatkan kuasa, tak sedikitpun nilai-nilai agama merasuk dalam dirinya, malah tingkah laku korup yang akhirnya menjerat dirinya dalam tudingan hukum sosial.

Agama Politik
Sedang agama politik, bagai satu keping mata uang, walau satu tapi tak bisa bertemu. Walau tak bertemu tetapi bisa mempunyai hubungan dan keterikatan yang erat satu sama lain. Misalnya orang yang mendewa-dewakan politik sebagai jalan hidup dan pemikirannya, bisa dikatakan orang tersebut telah menjadikan politik sebagai agamanya dan kekuasaan menjadi Tuhannya. Hal ini sesuai dengan pengertian agama secara umum yang berarti pegangan hidup, aturan, ajaran, ketaatan dan lain-lain.

Demikianlah celoteh singkat, mudah-mudahan ada manfaatnya. Wallaahu a’lam

Tuesday, October 20, 2009

Pengemis itu Malas, Benarkah? Lanjutan


(gambarhttp://www.pasarkreasi.com/dirmember/00001/doermogati/content/content-1796-20081112-6-34-86/small/mengemis_1796_s.jpg)

Pengemis itu Malas, Benarkah?
(Lanjutan)

Dari tulisan terdahulu sebenarnya saya hanya ingin mempertanyakan apakah tepat kata malas dilabelkan pada para pengemis? karena jika kita lihat kamus bahasa indonesia malas diartikan dengan tidak mau bekerja atau melakukan sesuatu, jika kita lihat kenyataan pengemis itu bekerja dan melakukan sesuatu, lalu dimana malasnya? Coba kita pikirkan lagi. (lihat juga ”mengemis haram”, di http://aagun2010.multiply.com/journal/item/129

Pengemis
Jika kita lihat dari sudut bahasa yang dimaksud dengan mengemis adalah meminta minta. Secara umum dapat kita pahami setiap peminta-minta adalah pengemis. Tapi tentu saja jika kita pahami seperti ini banyak orang akan menolaknya mentah-mentah. Tetapi jika kita khususnya pengertiannya pengemis adalah orang yang meminta-minta, biasanya dengan menampilkan sosok khusus yang telah menjadi brand image/trade mark mereka dengan tujuan mengambil hati, menggugah orang agar memberikan sesuatu/uang kepada mereka. Mengemis dalam agama yang saya pahami bukanlah perbuatan yang mulia, tidak juga hina, kecuali mereka-mereka yang memang sengaja menjadikannya sebagai profesi untuk meraup kekayaan, jelas ini perbuatan yang sangat hina.

Macam-macam Pengemis
Mengapa mengemis? Mengemis bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kemiskinan, cacat fisik atau mental (rendahnya harga diri). Dan yang menjadi faktor dominan adalah mental yang berhubungan dengan harga diri. Sebab banyak orang yang miskin lagi cacat fisiknya tetapi karena mentalnya kuat/memiliki harga diri, mereka tak mau menjadi pengemis. Kini sebagaimana telah kita ketahui bersama mengemis sudah dijadikan profesi, pekerjaan untuk menghidupi bahkan memperkaya diri. Selain itu faktor pemicu lainnya adalah tingginya rasa berbagi dan belas kasih sebagian besar masyarakat Indonesia, karena didorong faktor keyakinan/agama, ini merupakan lahan subur bagi tumbuh kembang dan beranak-pinaknya para pengemis. Rendahnya kesadaran berbagi untuk meningkatkan kualitas jati diri sebagai hamba Allah yang mulia bisa juga menjadi faktor penyebab pemiskinan diri ini.

Dari pernyataan tersebut kita dapat kita mengklasifikasikan sebagai berikut; pertama; pengemis permanen penyebabnya adalah faktor mental, mengemis dijadikannya sebagai mata pencaharian, pengemis musiman terjadi karena faktor musibah/bencana alam ini disebabkan tidak adanya ketrampilan lain yang memadai dan ini terjadi di negeri ini saat kemarau panjang tiba melanda beberapa daerah pertanian, ke tiga; pengemis yang memang saat itu dia membutuhkan bantuan (terpaksa).

Apa Yang Telah Kita lakukan?
Tulisan ini tak bermakna dan berakibat apa-apa jika kita hanya mendiskusikannya, langkah minimal yang harus kita lakukan adalah tidak sekedar memberi untuk memutus jaringan atau berilah secara selectif mereka-mereka yang benar-benar membutuhkan, memang sulit untuk memilah dan menahan iba terhadap penderitaan yang mereka tampakan, tapi mau tidak mau hal ini kita harus lakukan untuk memberi pendidikan kepada mereka. Tak bermaksud melarang untuk berbagi karena berbagi merupakan bagian integral dari ajaran yang saya yakini dan itu adalah hak bagi setiap mereka yang mampu berdasarkan ajaran agama yang saya pahami, tetapi memberilah untuk meningkatkan kualitas ummat.

Anehnya ketika ada ”tetangga” sebelah kita yang mau berbaik hati, berbagi, membantu makan dan pendidikan mereka, sehingga ada diantara mereka yang tertarik dengan kebaikannya dan mau mengikuti keyakinannya, munculah reaksi keras penolakan dan permusuhan, tuduhan, cacian, makian bahkan sikap-sikap permusuhanpun dikobarkan dengan lontaran semangat ”Allaahu Akbar”, pada saat ceramah, diskusi, tabligh akbar dan lain-lain, aneh? sungguh sebuah ini sebuah pembodohan yang amat nyata. Marilah introspeksi diri.

Peran Pemerintah dan Ulama
Pemerintah dan para anggota yang terhormat sesuai dengan amanah pancasila dan UUD ’45 wajib memberikan pendidikan dan perlindungan kepada kaum lemah, miskin (dhuafa’) dan kita wajib memberikan dorongan agar mereka mau konsisten menjalankan pancasila dan UUD ’45. Peran kaum agamawan/ulama (kyai, ustadz/zah) jangan hanya menyapaikan ceramah/dakwah dan bertarif mahal, sehingga tak menjangkau level dhuafa, atau dzikr diadakan secara akbar dengan biaya yang tidak sedikit tentunya, sedang kemiskinan, kebodohan dan pembodohan umat yang semakin jelas dihadapan mata, lihatlah demo/ekspoitasi kemiskinan pada saat pembagian zakat yang menimbulkan banyak korban, sungguh menyedihkan, ironis dan memprihatinkan.

Saya yakin masih ada (walau hanya sedikit) teman/sahabat atau para kyiai, ustadz/zah yang sadar dan tahu akar dari permasalahan ini sehingga berperan aktif ditengah masyarakat miskin/dhu’afa, berusaha sedikit untuk mengentaskan kebodohan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan, meningkatkan semangat dan harga diri serta kemuliaan sebagai hamba Allah, inilah pangkal utamanya. Semoga bermanfaat, wallaahu a’lam