Wednesday, February 8, 2012


Antara Rendah Diri dan Merendahkan Diri; Sebuah Permainan Kata-Kata

Kata rendah diri (inferiority) memiliki konotasi makna dan rasa bahasa yang sangat negative. Kata rendah diri adalah sikap yang menunjukan ketidak mampuan seseorang untuk eksis, kaga PD, kurang percaya diri Rendah diri adalah sikap tanpa kemauan dan menunjukan gaya hidup yang pesimis, tak mampu menatap/menyongsong masa depan. Rendah diri merupakan sikap pengabaian akan potensi besar yang ada dalam diri setiap manusia sebagai anugerah gratis dari Tuhan, Allah SWT. Rendah diri adalah symbol untuk sikap dan perilaku yang tidak mau berkembang dan maju, meningkat melesat. Sikap redah diri adalah wujud dari ketidak tahuan diri akan potensi dan kualitas diri. Orang yang rendah diri bisa dikatakan memiliki kelainan/penyakit secara psikologis.

Selain kata rendah diri, ada juga kata merendahkan diri atau rendah hati. Kata ini memiliki akar kata yang sama, yaitu kata rendah dan diri, perbedaanya menjadi sangat mencolok setelah kata ini diberikan tambahan yaitu awalan me dan akhiran kan. Tambahan awalan me dan akhiran  menjadikan kata ini bermakna lebih aktif dan positif bahkan sangat positip. Jika kata rendah diri lebih bersifat fasif, maka kata merendahkan diri lebih bermakna aktif, yaitu sikap yang tidak mau menunjukan, pamer (show off) kelebihan yang dimiliki. Orang yang memiliki sikap merendahkan diri dapat diumpamakan seperti kata pepatah memiliki ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk, dalam bahasa agama kita menyebutnya dengan tawadhu atau dalam bahasa sundanya handap asor.

Sikap rendah diri biasanya di dominasi oleh sikap malu yang berlebihan didominasi oleh rasa malas takut dan khawatir, rendah diri bisa disebut dengan minder. Malu boleh, takut wajar, khawatir harus dan kita memang harus punya malu, malu…jika melakukan maksiat, khawatir …kalau berzina, takut jika mencuri, malu kalau korupsi dan lain-lain. Sedang sikap merendahkan diri berinti pada rasa malu, takut, dan khawatir amal perbuatannya tidak diterima oleh Allah karena takut akan pujian yang bisa menghanyutkan diri dan terjembab pada perilaku sombong. Merendahkan diri lebih pada penunjukan sikap sopan santun, handap asor, khawatir jika dirinya takut terjerumus pada perbuatan yang menimbulkan dosa yaitu bersikap ujub (sombong) atau riya (pamer). 

Harus pula kita camkan dengan baik. orang yang merendahkan diri bisa masuk kemana saja, golongan mana saja, karena ia tidak memiliki beban moral melainkan ingin menunjukan sikap moral. Sedang rendah diri sungguh sangat menyulitkan seseorang untuk bergaul dan sehingga sulit masuk serta bersosialisasi kepada kelompok lain.   Dalam kitab keyakinan sahabat saya tertulis: Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Matius 23:12)
Rendah diri adalah sebuah sikap yang pendukung fanatisnya adalah rasa malas dan takut, sedang merendahkan diri merupakan sikap yang didukung penuh oleh rasa optimis dan berinti pada ilmu dan pengetahuan agama. Merendahkan diri menunjukan sikap hormat dan menghargai, mengakui eksistensi orang lain. Seorang penutut ilmu akan sukses jika mampu merendahkan diri, sebaliknya tak akan pernah mengalami kemajuan jika rendah diri. Seorang musafir tidak akan pernah mengalami kehausan dan kelaparan disebabkan ia memiliki sikap merendahkan diri, namun sebaliknya akan sangat tersiksa, jika ia rendah diri. Merendahkan diri adalah sikap meminta, tunduk dan merupakan salah satu adab dalam berdoa. Wallaahu a’lam.

Wednesday, January 18, 2012

Mempresentasikan Kreativitas


Untuk lebih membangun kemampuan berfikir dan pengembangan skill, para santri diminta membuat berbagai macam kreativitas minimal yang sederhana sesuai dengan pengalaman mereka di sekolah atau di rumah. Karya yang mereka buat dipresesntasikan proser pengerjaannnya. Berikut sebagian video yang dapat kami tayangkan




Friday, November 25, 2011

Jujurlah; Karena Kejujuran Tidak Pernah Membawa Petaka

Beberapa minggu yang lalu saya sempat memberikan motivasi untuk anak-anak di pengajian nurul Islam Ciledug, kota Tangerang yang membahas kejujuran. Jujur merupakan satu sifat Nabi Muhammad SAW, shiddiq. Karena kejujurannya, hingga saat ini beliau dikenang dan dipuji, namun karena kejujurannya ada pula segelintir orang yang membenci. Memuji, karena sesuai dengan apa yang diyakininya, membenci, karena terjadi benturan dengan keinginan/idenya/pahamnya.



Jujur merupakan sikap keterbukaan, namun bukan buka-bukaan (sebagaimana fenomena seorang ustadz selebritis dengan mantan istrinya yang kerap muncul pada tayangan infotainment, yang menurut saya sangat memalukan). Sedang lawan dari sikap jujur adalah bohong yaitu sikap menutup-nutupi kebenaran, manipulasi dan korupsi. Dalam bahasa agama yang saya pahami orang yang menutupi bahkan menjauhi kebenaran  Tuhan disebut kafir. 

Manusia hidup taqdirnya adalah bermuamalah, melakukan interaksi dan relasi social dengan yang lainnya. Dalam sebuah interaksi ada kepercayaan, dan kepercayaan inilah kunci dari suksesnya muamalah seseorang. Dalam bermuamalah dibutuhkan kejujuran dan kepercayaan. Jujur dan percaya merupakan hukum sebab akibat. Sebuah kepercayaan lahir dari perilaku. Salah  dua (maaf sedikit dari kebiasaan) akibat tidak adanya  sifat jujur  adalah hilangnya kepercayaan orang lain. Jika kepercayaan orang hilang maka kerugianlah yang akan di derita si pembohong. Mari kita mencoba menyimak diri dengan bertanya adakah di dunia orang yang mau bermua’malah dengan orang yang tidak jujur? saya yakin 1000% tidak ada. Mana ada di dunia ini orang yang mau dibohongi, mengapa? Karena kejujuran adalah fitrah manusia.

Dampak dari kekujuran bagi pribadi adalah kedamaian, ketenangan dan kedamaian hidup, yang berujung pada kebahagiaan. Sedang kebohongan apakah itu terungkap atau tidak, ia akan melahirkan ketakutan, kegelisahan, was-was dan kecemasan. Untuk itu mari kita mencoba untuk memaknai hidup dengan berusaha untuk selalu berkata dan berlaku jujur. Wallaahu’alam.

Friday, November 11, 2011

Sombong Akar Segala Kesengsaraan


Sombong Akar Kesengsaraan

Sombong adalah sikap merasa lebih, merasa besar, merasa hebat, merasa paling kaya, paling hebat, paling kuat, sikap selalu ingin dihormati, merasa paling mulia dan paling-paling yang lainnya. Betapa berbahayanya menyimpan, mengendapkan dan menunjukan sikap seperti ini dalam diri. Mengapa berbahaya? Ya sikap seperti ini membuat seseorang tidak mampu berkembang, sikap sombong  akan menutup segala pintu kebaikan orang lain terhadap dirinya. 

Kesombongan pertama kali diperlihatkan oleh makhluk Allah yang bernama Iblis. Ia tidak rela di saingi makhluk Allah yang datang (diciptakan) selanjutnya, manusia. Ia tidak rela saat diminta sujud, dalam arti menghormati nabi Adam, ia enggan, karena sombong, dan masuk dalam kelompok orang yang kafir (ingkar). Iblis bukan makhluk yang tidak beriman kepada Allah, tapi mengingkari apa yang diperintah-Nya. (baca Qs. Al-Baqarah (2): 34)

Betapa kesombongan sangat menyengsarakan diri, realitas kehidupan manusia secara fitrah tidak menyukai sifat sombong. Mari kita bertanya pada diri sukakah kita pada orang yang sombong?, atau bertanyalah kepada yang lain apakah mereka menyukai orang sombong? Saya yakin banyak orang yang tidak menyukainya. Rasulullah SAW bersabda, “Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. (HR. Muslim).

Surga adalah symbol kebahagiaan, ketentraman dan kedamaiaan yang abadi. Secara maknawi ia bisa dihadirkan di dunia dan secara hakiki berdasarkan keyakinan agama surga adalah tempat mereka-mereka yang hidupnya di dunia membawa kedamaian dan membahagiakan, apakah itu diri sendiri, keluarga, orang lain dan lingkungan, dalam arti mereka adalah orang-orang yang cinta pada jalan Tuhannya mereka adalah golongan orang-orang yang bertaqwa. Lawan kata surga adalah neraka, ini adalah tempat sebaliknya dari surga, dan mereka-mereka mereka yang sombong adalah penghuninya.

Semoga kita senantiasa menyadari akan hakekat diri kita, dari mana asal, untuk apa ada (hidup di dunia) dan akan kemana setelah ada berganti pada ada yang lain. Bahagia atau sengsara. Dan semua itu merupakan pilihan kita saat ini, itupun jika mempercayainya. Dan yang pasti untuk apa sombong, karena di atas langit masih ada langit.

Thursday, November 3, 2011

Kemuliaan Hidup

Kemuliaan Hidup
Aneh, kalau ada manusia di dunia ini  nanti tidak ingin menjadi orang yang mulia, bahagia di dunia dan akhiat. Siapapun dia pasti ingin menjadi orang yang mulia. Kita bisa menyaksikan dalam realitasnya banyak orang mencari jalan kemuliaan, namun bukan kemuliaan yang di dapat melainkan kehinaan. Mengapa demikian? Karena mereka salah memahami apa kemuliaan itu. Mungkin yang dimaksud hidup mulia menurut mereka adalah harta yang banyak, rumah yang bagus,  pujian dari banyak orang dan setiap dia berjalan orang hormat bahkan takut padanya.
Untuk menapaki jalan kemuliaan, marilah kita ingat pesan yang tercinta rasulullah SAW. Beliau menyampaikan pesan mengenai standar sebuah kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat, beliau menjelaskan, “Kemuliaan dunia adalah kekayaan dan kemuliaan akhirat adalah ketakwaan. Kamu, baik laki-laki maupun perempuan, kemuliaanmu adalah kekayaanmu, keutamaanmu adalah ketakwaanmu, kedudukanmu adalah akhlakmu dan (kebanggaan) keturunanmu adalah amal perbuatanmu.” (HR. Ad-Dailami)
Saya mencoba memahami pernyataan Rasulullah tercinta tersebut, dan inilah pendapat saya, dunia adalah materi, maka kecukupan dunia adalah terpenuhinya materi. Akhirat bukan materi, tapi “suatu” dibalik materi, karena “sesuatu” itulah materi menjadi berharga (bermakna) bagi kehidupan. Sesuatu yang dimaksud    disini merupakan pengejawantahan dari keyakinan, kesadaran (iman) kepada Sang Pencipta dan Pemilik Materi. Maka ketika terjadi singkronisasi antara sisi materi dan non materi, itulah kekayaana yang sebenarnya, kekayaan karena ketakwaan, kekayaan karena akhlak yang shaleh. kekayaan yang membawa kemuliaan. Hidup menjadi mulia karena Allah ridho, Allah cinta, Allah senang.
Hidup ini adalah amanah-Nya, amanah harus dijaga sesuai dengan pesan pemiliknya. Ketika sipemilik meminta apa yang dia titipkan lalu kita mampu mengembalikannya dalam keadaan yang lebih baik, tentu dia senang, namun jika titipan (amanah) itu hilang, rusak, pastilah sipenitip akan marah. Saat kita mampu menjaga amanah maka yang muncul adalah kepercayaan, dan kepercayaan itulah kemuliaan, kekayaan, keutamaan, akhlak dan amal perbuatan semua terangkum dalam kalimat taqwa. Semoga bermanfaat, wallaahu ‘alam.

Tuesday, November 1, 2011

Tempat itu Bernama Surga


Tempat itu Bernama Surga

Setiap agama menjanjikan surga. Surga sebagai janji balasan terhadap kebaikan (ibadah, pengabdian) yang dilakukan setiap manusia yang menjalankan perintah Tuhannya. Surga adalah adalah tempat hidup terakhir dan berlaku “abadi” setelah hidup di dunia. Dalam keyakinan saya sebagai seorang muslim, surga merupakan terjemahan dari jannah. Kata jannah ini sendiri berarti taman atau paradise, firdaus dalam bahasa Arabnya.
Seperti apakah surga itu? Rasullah SAW bersabda yang artinya:

Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah Swt berfirman: "Aku menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia. Oleh karena itu bacalah kalau kamu suka ayat: 'Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.' (As-Sajdah: 17)." (Mutafaq'alaih)

Allah akan memberikan sesuatu yang sangat rahasia. Dan sisi kerahasiaan ini menjadi ujian bagi setiap manusia, mau mengakui atau mengingkarinya. Jika mengakui tentu tidak sekedar mengakui, namun setiap orang yang mengakui harus mencari dan mengikuti jalan tersebut agar sampai pada tempat yang dituju, yaitu satu tempat rahasia namun penuh dengan kenikmatan/kebahagiaan.

Surga merupakan tempat kebahagiaan, kesenangan, kenikmatan abadi, tidak ada seorangpun yang tidak ingin memasuki dan mendambakannya. Ada yang mencari jalannya dengan menjadi martir bagi keyakinannya dengan alasan mendapatkan mati syahid yang balasannya otomatis surge, bahkan seorang bromocorah sekalipun pasti dia ingin masuk surga.

Begitulah indah kehidupan alam surga segala kenikmatan yang sulit digambarkan tidak akan pernah luput dirasakan para penikmatnya. Dan ada satu kenikatan yang tiada tandingannya yaitu bertemu dengan sang pencipta, Allah, rabbul’alamin. Berita tersebut telah disampaikan oleh utusannya tercinta Muhammad SAW berikut :Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah pernah ditanya seseorang : “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa memandang Rabb ?” Beliau menjawab: “Apakah ada yang menghalangi pandangan kalian terhadap rembulan pada malam purnama ketika tidak terhalang awan?”. “Tidak”. Jawab orang itu. Beliau bersabda: “Begitu pula kalian memandangNya pada hari Kiamat”.

Itulah surga gambaran abstrak nikmatnya sebuah kebahagiaan sesungguhnya yang memang abstrak, namun hanya orang-orang yang yakin kepada-Nya sajalah yang akan menjadikannya sebuah realitas. Hanya Dia Yang Maha Tahu.

Saturday, September 24, 2011

Hidup adalah Masalah, Masalah adalah Ujian dan Hidup itu Ujian (Sebuah Renungan)

Hidup adalah Masalah, Masalah adalah Ujian dan Hidup itu Ujian
(Sebuah Renungan)

Perjalanan hidup pastilah tidak akan selama mulus. Dari setiap hembusan nafas yang keluar saat itu juga masalah selalu menghadang.  Dari setiap yang kita usahakan juga membawa masalah. Ringan atau berat tergantung kita, karena kitalah yang membuat masalah itu. Misalnya saat saya sedang menulis tulisan ini sebenarnya saya sedang membuat masalah, ketika tulisan ini akan saya publikasikan sayapun sedang membuat masalah. Masalah ini bisa menjadi baik bahkan mungkin juga sebaliknya, tergantung pembacanya.

Dalam realitas hidup ada orang yang “kaya” dan adapula orang yang “miskin”. Banyak diantara kita memberikan persepsi, kaya itu banyak uang dan miskin itu tidak punya uang, jadi ukuran kaya adalah uang, itulah mata dunia, karena ia materi. Namun diantara milyaran manusia ada sedikit sekali orang yang memberi persepsi bahwa uang bukan ukuran kekayaan. Kekayaan itu adalah rasa syukur, namun lagi-lagi itu juga masalah.

Pekerjaan yang kita geluti itu penuh dengan masalah, makanan dan minuman yang kita nikmati merupakan bagian dari masalah. Teman yang kita akrabi, istri yang kita gauli, anak yang kita sayangi, orang tua yang kita cintai, kendaraan yang kita miliki dan sekali lagi apa yang ada dalam lingkup hidup kita sehari-hari itu adalah masalah.

Dalam bahasa inggris masalah disebut problem sedang penyelesaiannya dikatakan solving. Maka saat kita menyelesaikan setiap masalah kita, kita sedang melakukan problem solving. Setiap saat kita melakukan problem solving dengan diri sendiri, orang lain bahkan dengan lingkungan sekitar. Ketika masalah itu kita anggap selesai sebenarnya masalah itu belum selesai. 

Lalu sampai kapan masalah itu berakhir? Sampai mati? Tidak, saat kematian itu datang juga tidak menyelesaikan masalah, malah kematian membawa masalah bagi orang-orang yang masih hidup, itu yang pertama. Yang kedua belum tentu kita bahagia di alam kubur sana (maaf ini khusus bagi yang percaya pada kebahagian atau  kesengsaraan alam kubur). Lalu bagaimana agar masalah kita itu selesai saat kematian datang? Gampang aja ko, berusahalah untuk istiqomah sesuai dengan petunjuk arah yang telah disampaikan utusannya tercinta, Muhammad SAW. Lha hal itu jugakan masalah? Yups benar sekali, tapi berusaha untuk istiqomah di jalan-Nya, itukan langkah problem solving, problem solving untuk masa depan yang abadi , masa depan yang membawa pada bahagia (sekali lagi bagi yang percaya). Menuju bahagia itu masalah, namun ketika saat itu kita bahagia maka masalah itu tidak ada lagi. 

Mohon maaf jika sulit dipahami karena ini adalah masalah.
Salam