Kegiatan rutin tahunan Pengajian Nurul Islam Ciledug setiap bulan ramadhan menjelang penutupan sementara pengajian dalam rangka menyambut hari raya iedul fitri 1432 H diisi oleh berbagai kegiatan ibadah dan kebersamaanseperti;
1. Kegiatan Ibadah; maghrib, isya, tarawih dan qiyamullail dan shalat subuh berjamaah
2. Kebersamaan; Buka puasa sahur bersama
3. Dzikir dan doa bersama
4. Games interaktif
5. Nyantri semalam (nginep di pengajian)
Alhamdulillah, sekedar memberikan satu fase pengalaman hidup kepada mereka yang dapat memberikan kesan tertentu pada suatu saat nanti. Kegembiraan, kebersamaan dan pengetahuan serta pengamalan agama menjadi satu, sekedar memberi satu warna hidup yang berbeda dari keseharian.
Semoga ada manfaat yang dapat dicapai untuk sebuah perubahan, Allahu akbar !!!
Sebuah Usaha Untuk Melestarikan Al-Quran dan Semoga Bisa Menyebarkan Virus-Virus Kebaikan, Insyaa Allaah. Alamat: Jl. Kedondong Rt 02/06 No. 31 Sudimara Jaya Ciledug Kota Tangerang hp. 0815 145 995 76
Tuesday, August 23, 2011
Thursday, August 11, 2011
Ramadhan; (memang) Bulan Untuk Berpesta (bagian kedua)
Ramadhan; (memang) Bulan Untuk Berpesta (bagian kedua)
Sungguh luar biasa bulan yang satu ini, seakan ia menjadi central dari segala aktivitas kehidupan seorang yang mengaku sebagai muslim. Ramadhan, khususnya di indonesia memang seperti bulan pesta, lihatlah realitas yang yang ada, gegap gempita, suka cita, makanan, minuman, pakaian, uang, kembang api, siaran TV yang disajikan twenty 4 hours dengan sajian hiburan plus berbagi hadiah (entah benar atau tidak) dari sponsor plus selingan acara-acara sinetron berbau keagamaan atawa komedi-komedi yang menayangkan kekerasan secara halus, bahkan pembakaran petasan yang suaranya bersahut-sahutan dan kerap menimbulkan kerusuhan.
Awal ramadhan masjid penuh sesak, namun seminggu kemudian masjid/musholla kembali sepi. Saat itu suana beralih, mal-mal dan pusat perbelanjaan/pasar penuh rapat dipadati pengunjung untuk membeli berbagai ragam kebutuhan untuk menyambut berakhirnya puasa ramadhan. Uang mengalir bak air datang di musim hujan. inikah yang kita maksud dengan barakahnya ramadhan?
Dibalik realitas pesta yang kasat mata, ada juga pesta dari sisi lain yang dilakukan sebagai sarana memaknai hadirnya ramadhan bulan penuh berkah ini. Banyak orang yang pada bulan ini meningkatkan kualitas sosialnya dengan berbagi kepada saudara-saudara yang membutuhkan. Masih ada mereka yang mau berpesta untuk menggapai cinta kasih-Nya dengan memperbanyak dzikir, ‘itikaf, tilawah al-quran, tafakkur, tasyakkur, mengkaji keyakinan untuk peningkatan kualitas dirinya. Puasa ramadhan benar-benar dimaknai dengan penahanan diri extra keras terhap segala nafsu duniawi.
Namun realitas maknawi bulan suci ramadhan yang seharusnya muncul tertutup oleh dominasi realitas yang semu dan sangat kontradiktif ini. Apa mau dikata, pandangan dan pemahaman mayoritas telah menjadi tradisi. Entahlah apakah nilai-nilai yang begitu mendalam dari ajaran Tuhan agar orang-orang yang berpuasa menjadi orang yang bertaqwa setelahnya dapat diraih atau tidak, karena hanya Dia yang tahu, akhirnya mari kita berpesta dan pesta yang mana yang kini kita sedang lakukan. Wassalam
Sungguh luar biasa bulan yang satu ini, seakan ia menjadi central dari segala aktivitas kehidupan seorang yang mengaku sebagai muslim. Ramadhan, khususnya di indonesia memang seperti bulan pesta, lihatlah realitas yang yang ada, gegap gempita, suka cita, makanan, minuman, pakaian, uang, kembang api, siaran TV yang disajikan twenty 4 hours dengan sajian hiburan plus berbagi hadiah (entah benar atau tidak) dari sponsor plus selingan acara-acara sinetron berbau keagamaan atawa komedi-komedi yang menayangkan kekerasan secara halus, bahkan pembakaran petasan yang suaranya bersahut-sahutan dan kerap menimbulkan kerusuhan.
Awal ramadhan masjid penuh sesak, namun seminggu kemudian masjid/musholla kembali sepi. Saat itu suana beralih, mal-mal dan pusat perbelanjaan/pasar penuh rapat dipadati pengunjung untuk membeli berbagai ragam kebutuhan untuk menyambut berakhirnya puasa ramadhan. Uang mengalir bak air datang di musim hujan. inikah yang kita maksud dengan barakahnya ramadhan?
Dibalik realitas pesta yang kasat mata, ada juga pesta dari sisi lain yang dilakukan sebagai sarana memaknai hadirnya ramadhan bulan penuh berkah ini. Banyak orang yang pada bulan ini meningkatkan kualitas sosialnya dengan berbagi kepada saudara-saudara yang membutuhkan. Masih ada mereka yang mau berpesta untuk menggapai cinta kasih-Nya dengan memperbanyak dzikir, ‘itikaf, tilawah al-quran, tafakkur, tasyakkur, mengkaji keyakinan untuk peningkatan kualitas dirinya. Puasa ramadhan benar-benar dimaknai dengan penahanan diri extra keras terhap segala nafsu duniawi.
Namun realitas maknawi bulan suci ramadhan yang seharusnya muncul tertutup oleh dominasi realitas yang semu dan sangat kontradiktif ini. Apa mau dikata, pandangan dan pemahaman mayoritas telah menjadi tradisi. Entahlah apakah nilai-nilai yang begitu mendalam dari ajaran Tuhan agar orang-orang yang berpuasa menjadi orang yang bertaqwa setelahnya dapat diraih atau tidak, karena hanya Dia yang tahu, akhirnya mari kita berpesta dan pesta yang mana yang kini kita sedang lakukan. Wassalam
Tuesday, August 2, 2011
Ramadhan Bulan Untuk Berpesta
Ramadhan; Bulan Untuk Berpesta
Gegap gempita jutaan manusia khususnya Indonesia negeriku tercinta menyambut datangnya bulan suci ramadhan sungguh luar biasa. Tak ada salahnya saat kita menyambut kehadirannya dengan penuh suka cita. Karena ada janji Nabi Muhammad SAW yang menyatakan kurang lebih seperti ini, “siapa saja yang berbahagia menyambut masuknya bulan ramadhan maka diharamkan jasadnya disentuh api neraka.” Hadits ini merupakan sebuah motivasi bagi orang-orang yang beriman untuk menyambut bulan suci dan mulia ini dengan penuh suka cita. Namun dalam realitasnya pesan moral yang luar biasa menyentuh jauh panggang dari Api. Maksudnya?
Ada beberapa hal yang membuat diri ini kerap merenung, dengan pertanyaan pertanyaan berikut:
1. mengapa setiap akan memasuki bulan ramadhan dan iedul fitri harga barang melonjak tinggi
2. petasan seakan menjadi suatu yang wajib ada menjelang hadirnya ramadhan
3. moda transportasi menjelang hari raya menjadikan moment ini untuk menaikan harga
4. pasar-pasar rame pengunjung yang “sah” maupun yang “tidak sah”
5. tingkat kejahatan meningkat
6. kecelakaan transportasipun demikian halnya
7. meski demikian ada hal positifnya juga, bulan ini membuat banyak orang gemar berbagi, meski sifatnya sangat konsumtif
8. Sta. TV gencar menayangkan tayangan berbau Islam, meski intinya adalah penayangan iklan
Ada yang bilang inilah berkah ramadhan. Aku hanya bisa bertanya apa iya? bagiku menyaksikan fenomena yang ada ramadhan bagaikan bulan pesta. Pengalamanku sejak kecil sampai sekarang melihat fenomena ramadhan ya layaknya pesta.
Namun jika ku berfikir dan bertanya, dimana letak adari makna kata shaum yang dalam bahasa populernya berinti pada kata menahan diri, sabar. Fenomena tersebut diatas nampaknya belum mencerminkan makna dari kata shaum. Sekedar ingin mengingatkan diri sendiri agar berusaha mencari dan melaksanakan makna dari pada sekedar hura-hura, salam….semoga berkenan dan menjadi bahan perenungan.
Kegiatan Mengaji dan Membaca
Alhamdulillah kegiatan pengajian anak-anak bertambah satu lagi, yaitu kegiatan pembiasaan membaca buku dan menceritakan bacaan semampunya. kegiatan ini dilaksanakan setiap hari kamis khususnya, kegiatan dilaksanakan setelah proses belajar membaca dan menulis al-Quran selesai. Santri diberi waktu 30 menit untuk membaca buku sesuai dengan kelas di sekolahnya masing-masing, setelah itu santri diminta menjelaskan semampunya apa yang telah ia baca, minimal judul buku dan tokoh dalam buku yang dibaca atau disesuaikan dengan kemampuannya.
Terimakasih kami ucapkan kepada yang telah peduli memberikan satu dua buku bacaan atau yang telah mendonasikan uang zakat/infaq/shadaqahnya untuk dibelikan berbagai macam buku-buku bacaan. Kami juga masih mengharapkan bantuan tangan-tangan yang peduli untuk memajukan kegiatan ini dan menularkannya di tempat yang lain.
Semoga Allah SWT membalas amal baik mereka-mereka yang sudah peduli untuk perbaikan kualitas anak bangsa di masa depan, amin.
Memaknai Kehadiran Ramadhan
Memaknai Kehadiran Ramadhan
Lebih kurang dua hari lagi khususnya muslim di Indonesia akan menyambut gembira penuh suka cita datangnya bulan suci nan penuh barakah dan kasih sayang dari Allah SWT. Bulan yang telah ditunggu-tunggu jutaan orang, baik yang menunggu memang karena rindu pada tiap lembar-lembar pergantian harinya. Waktu sahur, shalat subuh berjamaah, menahan diri dari segala yang halal maupun haram sampai waktu yang diperbolehkan untuk dinikmati kembali sesuatu yang halal itu. Waktu berbuka yang begitu menyentuh irama jiwa, shalat isya dan tarawih serta tadarus al-Quran yang menyejukan jiwa. Kajian-kajian keislaman bergema dari setiap penjuru. Ormas-ormas islam atau politik, individu-individu yang mampu seakan berlomba untuk berbagi rasa, terlepas apa motifnya masing-masing.
Namun di balik itu ada juga yang tak mau kalah dalam menyambut hadirnya bulan ini, media masa, terutama televisi. Nampak jelas dan kontras terjadi persaingan penayangan acara TV yang berbau Islam antara satu sta. dengan yang lainnya. Iklan-iklan yang menawarkan gaya hidup konsumtif begitu gencar mencecar mata dan hati para pemirsanya untuk membeli. Dengan sajian yang menipu mata iklan itu seakan berpesan, sempurnakan puasamu dengan produk kami. Sungguh ini sebuah fenomena yang bertentangan dengan makna ramadhan dan puasa itu sendiri.
Akhirnya Selamat menyambut datangnya bulan mulia yang di dalamnya bertebaran cinta kasih-Nya. Selamat menikmati lembaran-lembaran harinya dengan tulisan-tulisan yang penuh makna. Isi lembaran-lembaran tersebut dengan tinta emas yang memang telah ia titipkan kepada kita semua. Mari maknai hadirnya sesuai dengan pesan intinya, menahan diri, sabar, membakar segala keburukan. Sehingga kehadirannya akan bermakna dan membawa perubahan yang baik untuk kehidupan.
Dan akhirnya sebagai mana tradisi yang baik, saya secara pribadi meminta, “Mohon maaf lahir dan bathin, jika ada kata-kata maya menyinggung rasa”, “Ya Allah berikan kekuatan jasmani dan ruhani kami untuk menikmati sajian-Mu di bulan ini, amin”
1 Ramadhan Memang Seharusnya Tak Berbeda
1 Ramadhan Memang Seharusnya Tak Berbeda
Pemerintah dengan Depagnya dan beberapa ormas Islam berdasarkan hasil sidang itsbat penetapan 1 ramadhan berdasarkan metode rukyatul hilal berhasil mengambil kata sepakat dan menetapkan 1 Ramadhan sebagai awal di mulainya ibadah puasa bertepatan dengan hari senin 1 agustus 2011. Mesk beberapa minggu sebelumnya Muhammadiyah sebagai ormas terbesar di Indonesia telah menetapkan awal ramadhan berdasarkan metode hisabnya jatuh pada hari senin tanggal 1 agustus 2011. Alhamdulillah, 1 Ramadhan di tahun ini sebagian besar ummat Islam di Indonesia berpuasa pada hari yang sama, entah untuk pengakhirannya yaitu penentuan 1 syawal, idul fitri, sama atau beda?Perbedaan penentuan 1 Ramadhan dan syawal di negeri ini sudah biasa dan dianggap lumrah. Pemerintah dan ormas-ormas Islam seakan tak mau kompak untuk menyamakan persepsi. , “tak perlu diperdebatkan”, kata beberapa pemimpin ormas Islam itu. Namun berbeda bagi mereka yang awam seperti saya. Menurut saya jika terjadi perbedaan penetapan tersebut hal itu merupakan hal aneh bin ajaib. Mengapa saya katakan demikian? kita ini hidup dalam Negara yang sama, perbedaan waktu antara satu provinsi dengan yang lainnya tak begitu mencolok, matahahari dan bulan yang menjadi ukuran penetapan hari juga sama, alat super canggih untuk menyaksikannya hadirnya hilal saya yakin sudah ada. Lalu ko masih beda. Oh terjadinya perbedaanya antara satu dengan yang lainnya karena adanya perbedaan penggunaan metode penetapan yaitu antara yang pake rukyatul hilal dan hisab. Lha aku cuma bisa terbengong bengong saja dan bertanya dalam hati “bukankah kedua metode tersebut menggunakan satu standar utama, yaitu bulan? karena ummat Islam dimanapun standar tahunnya berdasarkan bulan (qomariyah), inilah yang tak habis saya mengerti. Satu standar berbeda penetapan. hm..hm..hm, ini pasti ada penyebabnya. Kalau berbeda Negara berbeda tentu bukan soal.
Namun ketika saya mencoba memahami, saya mulai mengerti, perbedaan itu sebenarnya tidak perlu terjadi dan saya sangat yakin sekali dengan logika berfikir saya yang awwam ini (di paragraph kedua). inti perbedaan menurut saya ada pada ego masing-masih ormas dan pemerintah, terserah mau setuju atau tidak, tapi jika kita mau jujur ya demikian adanya. Yang lebih egois lagi adalah pernyataan yang pernah saya dengan dari seseorang, dia berkata “kita inikan hidup bukan di negera Islam, Negara ini kan Negara yang “tidak jelas” jadi tidak ada otoritas yang khas yang menjadi ikutan.” weleh…weleh dalam hatiku berkata “kenape ente masih tinggal di sini, sono gidah tinggal di tempat laen yang sesuai dengan keyakinanmu”.
Ego ormas Islam dan pemerintah dengan metodenya dan ukurannya masing-masing nampaknya perlu untuk disatukan, aneh kalau tidak bisa. Mereka harus duduk bersama untuk bermusyawarah menentukan kesepakatan dari standar yang paling detil. Namun memang butuh kerja ekstra keras dan waktu yang tidak sedikit karena dalam kaca mata saya, ini berkait erat dengan sejarah negara dan terbentuknya ormas-ormas Islam tersebut plus pakem/rules yang mereka yakini, meski hal itu bukanlah suatu yang akan merubah keyakinan (iman, tauhid) jika memang harus diubah untuk disepakati berdasarkan dalil-dalil yang shahih di era digital ini.
Namun jika memang egoism cultural masing-masing ormas tersebut yang di kedepankan, ya selamat berbeda. Itulah pendapat awwam saya, mungkin salah menurut pendapat anda, tapi saya sangat yakin kalau ini benar, karena saya yakin sekali kalau penentuan awal ramadhan dan syawal di Indonesia tidak pantas untuk berbeda. Wallaahu a’lam.
Thursday, July 21, 2011
Malu itu Harus tapi Jangan Malu-Maluin
Malu adalah bagian dari iman. Sebuah ungkapan yang saya pernah dengar dan ucapkan. Ada perasaan malu yang harus kita pertahankan sampai akhir hayat dan ada pula rasa malu yang harus kita buang jauh-jauh mulai dari sekarang. Rasa malu yang harus kita pertahankan adalah rasa malu yang dapat meningkatkan kualitas diri, sedang yang harus dibuang jauh jauh adalah rasa malu yang malah menghinakan dan merendahkan diri.
Mempertahankan rasa malu untuk melakukan perbuatan yang dilarang-Nya yaitu perbuatan-perbuatan hina seperti korupsi, kolusi atau mungkin juga nepotosme, berzina dan perbuatan zhalim lainnya merupakan bentuk kesadaran/Iman kepada-Nya, Malu seperti ini merupakan bagian dari Iman. Mempertahankan rasa malu seperti tersebut merupakan satu bentuk cinta kepada Allah dan manusia di dunia itu sangat mulia.
Sedang mempertahankan rasa malu untuk mengungkapkan perasaan dan bertanya untuk sebuah solusi akan menjadi hambatan dalam hati dan menjadi beban hidup, mempertahankan hal yang seperti ini saya umpamakan seperti air yang jalannya tersumbat. Maka perasaan malu ini harus dibuang jauh-jauh.
Dunia ini penuh dengan pelajaran hidup. Sikap dan perbuatan manusia bisa kita jadikan bahan introspeksi diri untuk mengelola hidup menjadi lebih baik. Lihatlah bagaimana kehidupan orang-orang yang tidak punya rasa malu dalam arti cinta kepada Allah. Perasaannya takut, tidak nyaman, khawatir. karena jutaan sorot mata tertuju kepadanya, ungkapan-ungkapan memaki menerpa dirinya, sumpah serapah selalu menghiasi telinganya. Akhirnya jika punya uang ia melarikan diri (buron) ke negeri yang bisa mengamankan dirinya secara fisik, dengan pura-pura berobat atau mendadak menjadi pelupa. Namun jika tidak punya uang jadilah dunia ini neraka.
Jika mereka yang buron itu punya keyakinan (agama) saya yakin dia masih punya rasa takut dan sadar. Sekarang mungkin bisa kabur keluar negeri, tapi saudara tidak akan bisa kabur dari pantauan dan catatan-Nya. Sekarang anda bisa lolos, tapi nanti no way out. Semoga kita bisa belajar dari fenomena karena kebaikan dan keburukan orang lain.
Mempertahankan rasa malu untuk melakukan perbuatan yang dilarang-Nya yaitu perbuatan-perbuatan hina seperti korupsi, kolusi atau mungkin juga nepotosme, berzina dan perbuatan zhalim lainnya merupakan bentuk kesadaran/Iman kepada-Nya, Malu seperti ini merupakan bagian dari Iman. Mempertahankan rasa malu seperti tersebut merupakan satu bentuk cinta kepada Allah dan manusia di dunia itu sangat mulia.
Sedang mempertahankan rasa malu untuk mengungkapkan perasaan dan bertanya untuk sebuah solusi akan menjadi hambatan dalam hati dan menjadi beban hidup, mempertahankan hal yang seperti ini saya umpamakan seperti air yang jalannya tersumbat. Maka perasaan malu ini harus dibuang jauh-jauh.
Dunia ini penuh dengan pelajaran hidup. Sikap dan perbuatan manusia bisa kita jadikan bahan introspeksi diri untuk mengelola hidup menjadi lebih baik. Lihatlah bagaimana kehidupan orang-orang yang tidak punya rasa malu dalam arti cinta kepada Allah. Perasaannya takut, tidak nyaman, khawatir. karena jutaan sorot mata tertuju kepadanya, ungkapan-ungkapan memaki menerpa dirinya, sumpah serapah selalu menghiasi telinganya. Akhirnya jika punya uang ia melarikan diri (buron) ke negeri yang bisa mengamankan dirinya secara fisik, dengan pura-pura berobat atau mendadak menjadi pelupa. Namun jika tidak punya uang jadilah dunia ini neraka.
Jika mereka yang buron itu punya keyakinan (agama) saya yakin dia masih punya rasa takut dan sadar. Sekarang mungkin bisa kabur keluar negeri, tapi saudara tidak akan bisa kabur dari pantauan dan catatan-Nya. Sekarang anda bisa lolos, tapi nanti no way out. Semoga kita bisa belajar dari fenomena karena kebaikan dan keburukan orang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)



