Wednesday, February 2, 2011

Tuhan Itu Cuma Hayalan Manusia


Tuhan Itu Cuma Hayalan (mimpi) Manusia

Mungkin ada manusia yang berpendapat seperti ini. Sebagai sesama manusia hendaknya kita bisa memahami mengapa ada diantara kita yang berkata demikian, tentu ucapan itu ada “asbabunnuzul”nya sehingga keluar ucapan dari pemikirannya. Andai kita mau berfikir kata-kata tersebut ada benarnya juga. Mengapa? Karena sampai saat ini tidak ada satupun manusia yang pernah melihat wujud Tuhan (ini khusus bagi yang mengaku muslim). Tuhan di yakini ada karena informasi kitab suci, begitu kira-kira, atau pesan para Nabi yang tercatat dalam perjalanan sejarah (hadits).

Tidak ada berita hingga saat ini  yang mengabarkan ada manusia yang mampu  melihat Tuhan, seorang Nabi sekalipun tak mampu menggambarkannya. Menurut saya jadi sangat wajarlah ungkapan itu. Hingga saat ini boleh dikata demikian, Tuhan masih berupa hayalan bagi manusia. Demikian saya berfikir, selama manusia masih tinggal pada tempat-Nya yang serba terbatas ini (dunia), maka selama itu pula Tuhan masih berupa hayalan manusia.

Secara pribadi (sebagai seorang muslim) saya tak sependapat dengan mereka yang berpendapat demikian. Mengapa? Tahukah kita bahwa berbagai macam penemuan yang mencengangkan berawal dari sebuah hayalan. Lain dengan Tuhan yang saya yakini, Dia tak bisa dikhayalkan/dimimpikan untuk digambarkan. Dan kita bisa lihat bagaimana realitasnya jika Tuhan diwujudkan dalam suatu yang kongkrit? Setiap manusia tentu  punya gambaran yang berbeda satu sama lain tentang-Nya.

Tuhan bagi yang meyakini-Nya, Dia, ada, lain hal dengan mereka yang mengingkarinya, Dia, tiada. Di dunia ini, ada dan tiada merupakan sesuatu yang saling berhubungan. Ada karena tiada, tiada karena ada, dan ada karena ada. Dia bukan hayalan/impian, karena memang Dia diluar hayalan manusia. Dia ada dalam keyakinan, dan sangat sulit bagi kebanyakan orang meyakini ke adaan-Nya. Mengapa sulit? Karena manusia ada dalam dunia nyata yang serba ada (materi, materialistis).

"Perbedaan antara manusia yang meyakini Tuhan dengan yang mengingkarinya itu adalah hati (qalb) dan di hati itu pulalah letaknya sebuah keyakinan. Maka orang yang meyakini-Nya seharunya harus lebih “berhati” dari yang tidak meyakini-Nya"

Tuesday, January 25, 2011

Caci Maki


Caci-Maki

Mencaci dan memaki, caci maki, apa itu? Pernah melihat? Atau bahkan pernah melakukan? Ya sudahlah. Lanjut. Kata ini dalam kamus bahasa Indonesia berarti: ca·ci ma·ki n kata-kata kotor (tidak sopan) yg dikeluarkan untuk mengumpat seseorang; kata-kata makian (sbg penghinaan); celaan; cercaan; nistaan; dampratan; maki-makian: ia menerima -- keji dr istrinya;  men·ca·ci ma·ki v menghina dng kata yg kurang sopan; memaki-maki. Gimana jelas bukan?

Lalu mengapa orang melakukan perbuatan itu? Bentuk dari perbuatan ini adalah ungkapan kata yang keluar karena perasaan yang tertekan, perasaan marah, kesal, dan orang yang mencaci maki itu biasanya adalah orang yang merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Ada bahasa lain dari caci maki, yaitu ngedumel, nggerutu, nah kalo ini biasanya dilakukan saat kita tertekan, tak berani melawan, main belakang begitu kira-kira, sedang caci dan makian biasanya berhadapan langsung. 

Sebagai mana info dari kamus tadi kata yang keluar berupa cacian dan makian adalah kata-kata hinaan, kata-kata kotor dan menyudutkan satu orang atau kelompok kepada orang atau kelompok yang lain dengan berbagai sebab. Cacian dan makian bisa terjadi pada satu pihak atau kedua belah pihak, saling mencaci dan memaki. Fenomena caci maki ini bisa terjadi di mana saja, dari tempat yang dianggap suci, forum pengajian, dalam khutbah,  forum diskusi (ilmiah), sekolah sampai tempat yang memang menjadi lahan subur ungkapan ini, tempat hiburan malam, terminal atau jalan raya. Pokoknya setiap tempat bisa saja ini terjadi, dari dunianya nyata sampai dunia maya, dari antar manusia sampai-sampai antar Negara.

Begitulah manusia dalam mengungkapkan perasaannya. Tapi sebenernya setiap manusia itu tahu kalau perbuatan mencaci dan memaki bukanlah perbuatan yang baik, berbicaralah pada keyakinan, hati-nurani dan Tuhanmu, pasti mengakui itu tidak baik, namun lain hal jika setan dan hawa nafsu yang menjadi tuhanmu. Siapa orang yang ingin di caci maki? Tentu tak ada yang mau. Ini menjadi bukti bahwa perbuatan itu merupakan perbuatan yang buruk, keji. Karena tujuan dari caci makian adalah melukai hati, ada pepatah yang terungkap karena rasa ego seseorang mengatakan, luka tubuh bisa diobati tapi luka hati tak ada obatnya.”. 

Begitulah manusia, kebodohan dan ketololannya, menutup kecerdasan hati nuraninya. Mari kita berusaha sebisa mungkin untuk menghindari perbuatan ini. Allah berfirman, Allah SWT berfirman: "...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS Al-Maidah, 5:8). Dalam ayat yang lain, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. [QS. Al-Baqarah 2: 216]. Wallaahu a'lam.




Thursday, January 13, 2011

(Masih) Belajar Menulis

Belajar Mengungkapkan Perasaan Dengan Tulisan

Alhamdulillah aku sudah bisa mengajar lagi di pengajian anak-anak mala mini (kamis, 13/01/11), setelah minggu lalu tak bisa hadir. Alhamdulillah tugas yang ku minta dua minggu yang lalu telah mereka kerjakan, menulis. Mereka ku minta menulis apa saja untuk diungkapkan, aku berjanji akan menuliskan kembali tulisan itu di blog Pengajian Nurul Islam; http://pengajianurulislam.blogspot.com.
 
Inilah beberapa karya mengarang bebas para santri pengajian Nurul Islam. Tulisan ini sengaja saya publish untuk menyenangkan hati mereka juga sebagai bentuk pengakuan terhadap hasil kerja mereka. Saya tak membimbing mereka dengan aturan tulisan yang telah menjadi pakem dunia tulis menulis profesinal, sebab memang saya bukan ahlinya, tapi saya hanya meminta mereka ungkapkan apa yang kamu ingin tulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagaimana yang telah diajarkan di sekolah kalian. 

Tapi itulah anak-anak pengajian yang saya bina, apa yang mereka buat merupakan hasil didikan sekolah mereka, saya hanya tinggal mencoba mengarahkan agar mereka kelak bisa mandiri dan hidup lebih baik lagi. Tulisan ini ditulis kembali maksimal sesuai dengan tulisan tangan mereka, bahasa mereka yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungn sekitar rumah mereka. Tak bagus memang tapi ini sudah bagus, karena mereka mau melakukan.

Menulis dan membaca dan penanaman nilai dengan permainan permaian, semoga bisa member warna tersendiri dalam dunia mereka, mereka mengaji, tak seperti dulu saya mengaji, Alhamdulillah bagi saya mereka lebih beruntung dari saya yang sejak seusia mereka tak pernah kenal dengan kegiatan menulis dan membaca kecuali saat sekolah. Inilah awal dari sebuah proses pendidikan sepanjang hayat.

Berikut dua karangan bebas mereka yang saya ambil dari beberapa tulisan yang lain (jumlahnya 13 tulisan dari 13 santri sudah bisa (meski belum lancar) membaca al-Quran, insya Allah akan ada tulisan yang lainnya yang nadanya lebih lucu, polos dank has anak-anak pinggiran. Sebelumnya mohon maaf jika tidak berkenan dengan tulisan cere-cere ini.

Wanita Berjilbab Biru
Oleh: Sacika A.W
Umur: 12 tahun, siswa kelas VII SMPN 10 Tangerang
Pada suatu hari di komplek pejasaan (begitu ia menulis) ada seorang wanita berjilbab biru. Ia baru membeli rumah di komplek itu dan beliau bernama anisa. Pada sore hari ia ingin membeli gula dan terigu diwarung untuk membuat kue, di warung ada sekumpulan ibu2 gosip. Anisa terus berjalan menuju warung, setelah ia membeli gula dan terigu, anisa membuatnya langsung. Dua jam kemudian kue sudah jadi dibuat oleh anisa, ia akhirnya pergi ke warung itu untuk mengasi kue ke ibu2 itu. Setelah itu anisa pulang, ibu2 gosip itu membicarakan anisa. Salah satu ibu2 gosip itu bernama jessi. Jessi berkata “ihh…saya jijik makan kue begituan, saya ma ga level. Sory aja y…” anisa tetap bersabar dan terus berjalan pulang. Kesesokan harinya salah satu ibu2 gosip itu yang bernama jessi, kena sasaran selingkuh dengan laki-laki lain, akhirnya … (tulisannya ga kebaca karena menggunakan pensil) jessi dikeluarkan dari komplek pejaasaan itu, sore hari teman2 jessi/dibilang ibu2 gosip akhirnya ia meminta maaf sama anisa, dan setelah itu komplek pejasaan adalah komplek yang damai.


Jalan-jalan ke Pantai Pasir Putih
Oleh: Ida Farida
Siswa kelas IIIA SDN karang tengah (03)

Aku seBelum Bermain di pantai aku makan dulu. Lalu aku ganti Baju di kamar mandi aku lalu Bermain ke pantai aku lalu membikin istana aku lalu Berenang di pantai Saat itu sangat seru aku menyewa Ban aku langsung Berenang aku Bersama teman-teman dan tetanggaBermain sangat senang aku dan tetanggaku menaiki mobil bersama teman-teman. Aku pas dimoBil temanku ada yang muntah dan aku tidak muntah aku dimobil ketiduran aku aku berhenti di alfamaret Pantai Anyer aku memBeli cemilan untuk dimakan di moBIL aku sesampai disana Pukul: 11.00 aku pulang selama lima jam aku pulang jam ….(tidak jelas tulisannya karena tercoret …09.30). aku Pulang memBawa Baju untuk aku dan aBang dan mamaku hari itu sangat Senang Sekali insya allah aku liburan tahun depan ke sana lagi jika ada uang.

 pergi ke pesta

     pada saat itu saya pergi kesekolah,di sana saya diundang sama teman saya untuk pergi kepesta ulang tahunnya yang ke14 "hai triya " kata sie vita,sayapun ber tanya "hai vita,ada apa?' vita pun menjawab " oh lnl saya ingin mengundang sama kamu " saya pun bertanya lagi sama sie vita "undangan apa ?" vita pun menjawab lagi "aku ingin merayaka ulang tahun ku yang ke 14,datang ya ?"saya pun menjawab " ya" pada saat itu saya pulang sekolah'sie tika menghampiei saya dan ingin menanyakan sesuatu "hai triya ,kamu diundang apa tidak sama sie vita?"aku pun menjawab "ya memang ada apa?"tika pun menjawab "besok klta berangkat bersama yuk?" saya pun menjawab ya' tika pun mengajukan pertanyaan lagi "tapi triya berangkatnya jam berapa nie?"saya pun ber pikir,tetapi sie tika mempunyai ide "bagaimana kita beeangkatnya jam 19.15" kata sie tika,aku pn setuju "yasudah dech terserah kamu saja "
 
    pada keesokan harinya saya pun datang kerumah sie tika, tika pun sudah bersiap-siap untuk pergi kepesta.setelah kami sampai di pesta saya dan tika memberi selamat kapada sie tika.pada malam ltu saya dan tika sedang menikmati pesta itu ,selain itu teman-teman juga menyanyikan lagu ulang tahun .selagi pesta itu ber jalan saya dan sie tika sudah cukup lelah kami berdua punberpamitan kepada vita "vita saya dan triya ingin pulang dulu ya?" kata sie tika vita pun menjawab " ya sama-sama sudah datang " kami berdua pun pulang bersama.
 
                                                 _kancil,ular dan rusa _
 
    pada suatu hari,kancil sedang berjalan kehutan,tiba-tiba ia melihat seekor ular sedang menggigit kaki seekor rusa.rusa pun berteriak kesakitan,tetepi ularnya tidak mau meleps gigitannya.rusa pun memaki-maki ular.ia telah menolong ularnya dari lampitan pohon yang tumbang tetapi ularnya membalas dengan menggigit kakinya.
    kancil mempunyai akal untuk menolong rusa,kancil berpura-pura tidak percaya bahwa rusa telah menolong ular.ular menuruti permintaan kancil ia melepaskan gigitan-nya ular pun bersedia memperagakan saat itu terhimpit kayu besar.kancil menyuruh rusa agar menindikan kayu besar itu ke tubuh ular.saat itu kancil mengajak rusa pergi.

Friday, December 10, 2010

IQRO; Bacalah

IQRO, Bacalah
 
Malam ini (kamis malam jumat, 09/12/10) pengajian membahas keutamaan dan manfaat membaca bagi kehidupan. Sengaja saya tidak memberi tahu tema-nya agar apa yang mereka lakukan nanti murni, datang dari dalam diri mereka sendiri, tanpa tekanan untuk menyesuaikan dengan tema yang telah disampaikan. Saya mengawalinya dengan mencoba bertanya kepada para santri, siapa yang suka membaca? Tidak ada satupun yang menjawab. Lalu ku coba mengulanginya beberapa kali, hasilnya sama. Oke kalau begitu, jika memang ngga ada yang menjawab berarti disini semua tidak suka membaca? Merekapun diam. (dalam hatiku berguman dasar anak-anak). Dan aku tahu mengapa mereka diam.
Saya memahami diamnya mereka, ini karena memang mereka tidak terbiasa mengungkapkan pendapat, hal ini mungkin disebabkan mereka terbiasa untuk diam jika ditanya karena lingkungan, baik rumah, tempat bermain bahkan bisa juga sekolah, telah mengkondisikannya. Aku tahulah, karena aku sendiri lahir, kecil dan besar dan sekolah dilingkungan seperti ini. Baiklah kalau begitu, karena tidak ada yang mau menjawab, berarti di sini tidak ada yang suka membaca, aku mencoba menyimpulkan. Selanjutnya, karena kalian tidak suka membaca, silahkan jawab pertanyaan bang Gugun (begitu bisa mereka memanggil), pada selembar kertas A4 yang telah kalian bagi menjadi 4 bagian itu. pertanyaannya “mengapa saya tidak suka membaca.”
Nah berikut jawaban-jawaban ketiga belas santri, lucu-lucu juga jawaban mereka mereka;
Malas (karena menghabiskan tenaga air, sehingga menjadi haus) hi..hi..hi.., dia kira membaca seperti menggali sumur kali ya.
Karena aku kadang-kadang yang mau dibaca banyak jadi gak jadi baca. Nah lho, apa ini kebayakan tugas dari sekolah kah?
Karena kalau membaca akan membawa ngantuk dan rasanya akan capai. Ada benarnya juga sih
Karena aku sukanya menulis dan aku suka menulis huruf arab. Waduh padahal mana bisa menulis kalau ngga bisa membaca?
Karena aku tidak terlalu suka menulis ataupun membaca, aku lebih suka mendengarkan. Pendengar yang baik rupanya.
Karena kalau membaca yang panjang/yang banyak susah dicermati.
Karena kalau membaca bawaannya ngantuk terus rasanya ,alas sekali dan kadang bacaanya panjang-panjang
Karena ada yang pendek dan panjang juga ada yg keliru. ??? maksudnya???
Karena itu bukan hobi aku. He..he..he..mungkin dia hobinya makan kali ya?
Karena bacaanya banyak membuat pusing. Wah ini tugas sekolah juga nih kayaknya?
Karena membaca bukan hobiku aku suka menggambar. Ya bolehlah
Karena saya lebih menyukai menulis & menyanyi. Dia ngga tahu kalau menulis dan menyanyi itu salah satu syaratnya bisa membaca)
Karena susah bacanya, (anak yang ini ketika diminta membacakan tulisannya, ternyata mengalaminkesulitan membaca tulisannya sendiri, ha..ha..ha..)
Oke, tadi kamu sudah menjawab pertanyaan pertama, mengapa kamu tidak suka membaca? sekarang tolong jawab pertanyaan bang gugun yang berikut, pada lembar kertas yang sama di bawahnya. Pertanyaanya; “Apakah membaca mempunyai manfaat bagi diri sendiri atau tidak?” Kalau ada, apa manfaatnya? kalau tidak, mengapa? Berikut jawaban mereka;
Punya, karena kalau membaca akan bertambah ilmunya menjadi besar. Wuaaw ngeri
Ya, karena ada tentang pelajaran yang bisa tau di cerita itu.
Punya, karena dengan membaca kita akan mendapat berita dari orang lain (maksudnya dari penulisnya kali ya?)
Punya karena membaca akan menambah ilmu  kita supaya kita cerdas membaca dan menulis.
Ada, karena kalau kita tidak bisa membaca kita akan dibodohkan.
Punya/iya, karena banyak ilmunya
punya, keuntungannya kita dapat bercerita tanpa mengulangi lagi bisa berdongeng dan menjadi penulis novel. Nah pan tau itu!
Ya, karena semua pelajarn harus dibaca dengan jelas, tuh kan bener tugas sekolah, he..he..he.
Punya, karena kita bisa pintar dan sukses
Ya, karena membaca adalah kuncinya.
Punya, bisa mengetahui apa saja yang kita belum tau.
Ya, karena membaca membuat fikiran bekerja dan menambah hal-hal yang baik, mantab-b nih jawaban
Iya. Ini yang kesulitan membaca tulisannya, jadi jawabannya cukup iya.
Itulah sekelumit pendapat 13  orang anak, 12 anak perempuan dan satu laki-laki. Semua menyatakan bahwa membaca itu memiliki manffaat bagi diri sendiri. Dari apa yang telah mereka ungkapkan atas pertanyaan pertama dan kedua, aku membuat perumpamaan untuk mereka, seperti ini. Ada sebuah rumah mewah, tetapi rumah itu tanpa penghuni. Meski demikian rumah itu bersih, indah dan berisi, harta benda berharga, seperti emas, intan-permata, dan uang milyaran rupiah. Sebenarnya rumah itu boleh dimiliki oleh siapa saja. Tetapi sayang tidak ada orang yang mau mengambilnya. Meski ia tahu, bahwa rumah dan isinya itu sangat berharga untuk kehidupannya.
Itulah perumpamaan apa yang telah kita lakukan malam ini. Kamu sudah tahu kalau membaca akan membawa banyak keutungan untuk kehidupan kelak. Tapi sayang tak satupun yang ingin membawa keutungan itu untuk kehidupannya. Nampaknya ada diantara mereka yang masih bingung, dengan perumpamanan itu dan dia tidak tahu kalau dia bingung. Mengapa? Karena dia tidak mau bertanya? Mengapa tidak mau beranya? Jawabanya takut, dan malu. Mengapa  takut dan malu? Sekali lagi karena mereka memang tidak terbiasa untuk itu. Kasihan sekali mereka.
Itulah gambaran 13 orang santri yang ikut pengajian di rumah orang tua di ciledug, tangerang. Pengajian ini berdiri selepas saya SMA sekitar tahun 1993. Meski sekarang saya hanya mengunjunginya sekali dalam seminggu, setiap kamis malam jumat, selepas kerja di cilandak. Maklum sekarang tinggal di utaranya bekasi, babelan, sejak 2002. Alhamdulillah pengajian ini masih tetap terlaksana meski jalannya tertatih-tatih.  Melihat kehidupan mereka yang serba pas-pasan, dan melihat lingkungan kami, plus kesadaran akan pentingnya membaca itu sangat rendah sekali. Tapi insya Allah bertekad, dan terus mencoba mengajak mereka untuk senang membaca.
Pertama yang saya lakukan adalah memberikan tugas kepada mereka untuk membaca, pesannya, jika kalian punya punya, atau menemukan koran/majalah/tabloid bekas yang mungkin saja tidak terpakai lagi, ambil satu paragraph saja. Boleh digunting atau di sobek dengan rapih, lalu baca dan simpan di dalam buku. Insya Allah pertemuan berikutnya (kamis malam jumat berikutnya) kita akan bacakan bersama-sama apa yang telah kalian temukan dan baca, dan kamu membacanya di depan teman teman yang lain secara bergantian, tak lupa sayapun memberi contoh apa yang harus lakukan.  Tulisannya infonya tentang apa saja/isi bacaanya bebas asalkan baik untuk disampaikan.
Dari kenyataan yang ada, terbesit keingingan untuk mencoba melanjutkannya kegiatan gemar membaca ini dengan membuat sebuah perpustakaan kecil dan sederhana di pengajian ini, mudah-mudahan bisa terwujud. Jika ada teman/sahabat yang bersimpati, senang sekali jika memang bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka yang masih membutuhkan bimbingan untuk perubahan yang lebih baik. Insya Allah.




Gambar: http://saintisislam.blogspot.com/2010/04/budayakan-membaca.html

Thursday, November 25, 2010

Pegangan

Pegangan

“Saling Berpegangan ya, agar tigak jatuh”, “pegang erat-erat, hati-hati jalannya licin”, “, “pegang erat-erat, berjalan hati-hati, jangan dilepas sebelum kau sampai”, “makanya berpegangan pada peyangga itu”, “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai …” (QS. Ali Imran (3): 103). 

Beberapa kalimat tersebut  sering kita dengar dan mungkin juga pernah kita ucapkan, atau kita pernah diingatkan dengan ungkapan kata tersebut, bahkan Allahpun mengingatkan kepada kita untuk berpegang teguh pada ajaran-Nya. Lalu mengapa kita harus berpegangan? Atau mengapa kita membutuhkan bahkan harus punya pegangan? Untuk apa?

Mencoba menyimak pesan-pesan yang mengingatkan dan memahami mengapa Tuhanpun menegur manusia untuk berpegangan pula. Kita hidup di dunia ini bagaikan sedang menyeberangi lautan luas dengan ombak yang sangat kuat hempasannya. Agar kita tidak terombang-ambing dan mengakibatkan kita terhempas, atau kita sedang melewati sebuah jalan yang sangat licin, yang tentunya jika kita tak mempunyai pegangan kita akan terpeleset jatuh. Begitulah hidup, tak selamanya berjalan mulus sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Pengangan itu sendiri berarti usaha untuk menjadikan sesuatu sebagai penopang yang membantu dan mengarahkan kita berjalan. Ketika kita mempunyai pegangan terasa setiap langkah dari perjalanan kita ini begitu mudah, dan tentunya kitapun harus mengetahui apakah yang kita jadikan sebagai pegangan itu kuat atau rapuh. setelah kita tahu yang menjadi pegangan itu kuat maka berpeganglah erat-erat. Dan jangan pernah jadikan sesuatu yang lemah itu sebagai pegangan, seperti hawa nafsu (yang negative). Kuat tidaknya sesuatu yang dijadikan pegangan ukurannya adalah ilmu/pengetahuan dan iman (keyakinan).

Sesuatu yang biasa dijadikan manusia sebagai pegangan dalam mengarungi hidup ini adalah agama dengan ilmu sebagai kunci pembukan dan penerangnya. Kita tahu banyak agama yang dijadikan manusia sebagai pegangan hidupnya, dan memilih berpegangan kepada sesuatu yang bisa dijadika sebagai pegangan adalah hak setiap manusia, sesuai dengan keyakinannya. Keyakinan itu sulit untuk dipaksakan, maka sangat rasional sekali jika Allah juga memberikan pesan kepada kita:

Iw on#tø.Î) Îû ÈûïÏe$!$# ( s% tû¨üt6¨? ßô©9$# z`ÏB ÄcÓxöø9$# 4 `yJsù öàÿõ3tƒ ÏNqäó»©Ü9$$Î/ -ÆÏB÷sãƒur «!$$Î/ Ïs)sù y7|¡ôJtGó$# Íouróãèø9$$Î/ 4s+øOâqø9$# Ÿw tP$|ÁÏÿR$# $olm; 3 ª!$#ur ììÏÿxœ îLìÎ=tæ ÇËÎÏÈ   

“tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut,  dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

            Begitu pentingnya arti sebuah pegangan dan usaha kita untuk selalu berpegang teguh dengan apa yang kita yakini sebagai sebuah kebenaran yang benar. berpegangan merupakan  sebuah usaha, yang dipegang adalah sesuatu yang kuat agar kita mampu ditopangnya. Berpegang teguh berarti kita memegang sesuatu itu dengan kuat, dan tidak akan melepaskannya sebelum selamat sampai pada tujuan dari hidup ini. Tetapi dalam realitasnya, banyak orang yang menjadikan pegangan dipegang dikala butuh, dipegang dikala menguntungkan, bahkan tidak sedikit diantara kita yang  menyembunyikan pegangan itu karena nafsu ingin meraih yang lain, itulah para koruptor yang telah memiskinkan negeri ini, dan menyengsarakan banyak orang, mereka adalah para penghianat negeri ini, bukan pahlawan.

            Lalu mengapa manusia butuh pegangan?  karena manusia itu lemah, lemah dalam arti manusia bukan apa-apa, tidak punya apa-apa. Apa iya? Karena banyak orang di dunia ini yang merasa dirinya kuat? Masa sih? Kalau begitu mari kita berpikir, pertanyaanya; sejak kapan dia merasa dirinya kuat?  Lalu, sejauh mana kekuatan yang dimilikinya akan mampu dia pertahankan?  Dan tahukah kita ketika dia merasa kuat, itu karena ada yang diyakini dalam dirinya, meski keyakinan itu sangatlah lemah pada hakikatnya. Itulah hawa nafsu yang negative. Sekarang mari kita cari contoh orang terkuat di dunia ini, masih adakah? Mungkin ada, tapi dalam catatan sejarah, atau dongeng pengantar tidur. Jikalau ada pada saat sekarang orang yang merasa dirinya kuat, bertanyalah lagi, sampai kapan dia kuat, selama-lamanyakah? Jawabnya nothing! 

Dengan berpegangan manusia akan kuat, kuat dalam arti mampu mengarungi hidup ini. Dengan berpegangan berarti manusia menjalin kerja sama, karena sadar bahwa mengarungi hidup ini akan sangat sulit jika hanya seorang diri. Kita butuh orang lain, kita memerlukan orang lain, hal ini cukup sebagai bukti bahwa kita memang lemah. Jika dibanding dengan binatang, hanya manusia yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa berdiri. Lihatlah bayi kerbau, ia hanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk bisa berdiri. 

Saudara jika memang kita telah punya kekuatan karena pegangan semoga tidak menjadi kekuatan karena dibalut kesombongan sebagai balutan hidup yang sangat lemah pada dasarnya. Berpegangan memiliki filosofi saling membantu, menolong dan bekerja sama, meringankan beban yang lain. Tidak tergolong seorang yang berpegangan jika ia menghempaskan orang lain, melupakan orang lain, menyingkirkan orang lain demi keselamatan dirinya sendiri. Wallaahu’alam.






Monday, November 22, 2010

Mengapa Menjadi TKI?

Mengapa Menjadi TKI; Dilema Negara "Kaya” Indonesia

Menjadi TKI bukanlah suatu yang hina, apalagi TKI yang mampu mengharumkan martabat bangsa. Namunsayang nasib TKI yang bekerja pada sektor rumah tangga sering kali mengalami nasib yang sangat menyedihkan, disiksa, dibunuh bahkan menjadi alat pemuas nafsu sang majikan, anak bahkan saudara, diperkosa. Bukan cuma harga diri (HAM) bahkan kehormatan.

Sungguh ini sebuah pelecehan dan penghinaan berbangsa, pelanggaran HAM. Apalagi akhir-akhir ini dan kini sedang ramai dibicarakan rakyat indonesia yang tersentuh nurani kemanusiaan tak sekedar nasionalisme. Arab Saudi, negeri tempat dua kemuliaan Islam, ternyata sebagian rakyatnya masih menampakan budaya jahiliyah dibalik penegakan hukum Islam, nampaknya keturunan sifat Abi Jahal dan Abu Lahab  juga Abu Sopyan  ayah dari Mua'wiyah yang keji, masih belum luntur, perbudakan terselubung tetap dipertahankan, meskipun kita juga tak bisa menafikan sisi kualitas TKI yang di kirim negeri pembebas benih-benih perbudakan pada masa yang tercinta Muhammad SAW.
Lalu apa factor yang menjadikan sebagian rakyat Indonesia rela “menjual” dirinya di negeri orang? Tak lain karena masalah ekonomi yang berbuntut kemiskinan dan pemiskinan,  plus kelebihan penghargaan yang diberikan (salary) jika dibandingkan dengan negerinya sendiri. Meski tak sedikit mereka yang sukses dan dengan bangganya pemerintah memberinya gelar pahlawan devisa, tapi jaminan terhadap harga dirinya terabaikan, uang dan uang masuk, itu yang ada dalam otak pemerintah, dan mafia-mafia yang kerap memoroti hasil keringat mereka saat kembali ke kampong halamannya, kejam, sunggung kejam, Meski bergelar pahlawan tetap menderita. Sementara pekerja-pekerja asing, baik yang resmi maupun illegal, termasuk yang menjadi guru pada sekolah-sekolah berlabel internasional  dengan kualitas yang patut dipertanyakan berhasil meraup dolar di negeri rupiah, sungguh sebuah dilemma di negeri yang makmur ini, katanya.
Masalah ekonomi yang berbuntut kemiskinan, sekaligus pemiskinan disebabkan mahal dan rendahnya kualitas pendidikan menyebabkan mental dan character bangsa yang buruk. Hanya Negara kita, Indonesia sebagai Negara kaya yang miskin dikenal sebagai pengekspor tenaga kerja non industry dan intelektual ke Negara lain, terutama Arab Saudi. Sungguh menyedihkan hutang luar negeri meningkat plus di korup, project-project Negara yang di catur, plus uang  rakyatnya yang bisa dipermainkan untuk mengenyangkan perut serta memperkaya segelintir orang-orang licik, picik dan berotak busuk, penghianat-penghianat negeri ini bebas gembira meski mereka dipenjara, penjara yang  tak pernah membuat mereka merasa bersalah kepada negeri, penjara yang melanggengkan kuasa para penista Negara. Kejam, dan kekejaman itu tetap dipelihara.

Mengapa menjadi TKI? Tak ada salahnya jika memang bisa mengharumkan nama negeri. Entah apa yang ada dalam otak para pengelola Negara ini yang seakan membiarkan nasib rakyatnya bak budak pada jaman jahiliyah. Mereka membutuhkan payung kemerdekaan dan perlindungan HAM, bukan sekedar hp, berantas juga mafia dan pemalak TKI jika mereka kau anggap sebagai pahlawan devisa bagi Negara. Salam manis buat para pengelola negeri, dan juga mereka yang suka jalan-jalan keluar negeri untuk menghabiskan devisa uang pajak yang telah berbentuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.